Bacaan Popular

Rabu, 8 Januari 2014

Sombong



Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor kebendaan. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain. Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor KECERDASAN. Kita merasa lebih pintar, lebih cendiakawan, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor KEBAIKAN. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mengesannya. Sombong karena kebendaan sangat mudah terlihat, namun sombong karena
pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit dikesan karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri dan kepercayaan diri. Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan, Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu EGO di satu kutub dan KESADARAN sejati di lain kutub. Pada saat dilahirkan ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak
punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita perlukan dalam hidup. Keenam indra kita
selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan
kita kepada dua isme ketamakan dan kebencian. Inilah akar dari segala permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju KESADARAN sejati.

Untuk melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah MAKHLUK FISIK, tetapi MAKHLUK SPIRITUAL. Kesejatian kita adalah spiritual, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabu oleh penampilan, label, dan segala "tampak luaran" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalaman". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang
lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi,
setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

kredit: rakangroup


Salam Ukhuwah..~

Selasa, 7 Januari 2014

5 Tanda Hati Keras Membatu



Hati adalah sumber ilham dan pertimbangan, tempat lahirnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan sikap degil, ketenangan dan kebimbangan. Hati juga sumber kebahagiaan jika kita mampu membersihkannya namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika kita gemar menodainya. Aktiviti yang dilakukan sering berpunca daripada lurus atau bengkoknya hati. Abu Hurairah r.a. berkata, "Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentera. Jika raja itu baik, maka akan baik pula lah tenteranya.. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tenteranya".

Hati yang keras mempunyai tanda-tanda yang boleh dikenali, di antara yang terpenting adalah seperti berikut:

1. Malas melakukan ketaatan dan amal kebajikan

Terutama malas untuk melaksanakan ibadah, malah mungkin memandang ringan. Misalnya tidak serius dalam menunaikan solat, atau berasa berat dan enggan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifatkan kaum munafikin dalam firman-Nya yang bermaksud, "Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (Surah At-Taubah, ayat 54)

2. Tidak berasa gerun dengan ayat al-Quran

Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, hatinya tidak terpengaruh sama sekali, tidak mahu khusyuk atau tunduk, dan juga lalai daripada membaca al-Quran serta mendengarkannya. Bahkan enggan dan berpaling daripadanya. Sedangkan Allah S.W.T memberi ingatan yang ertinya, "Maka beri peringatanlah dengan al-Quran orang yang takut dengan ancaman Ku." (Surah Al-Qaf, ayat 45)

3. Berlebihan mencintai dunia dan melupakan akhirat

Himmah dan segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata-ma ta. Segala sesuatu ditimbang dari segi keperluan dunia. Cinta, benci dan hubungan sesama manusia hanya untuk urusan dunia sahaja. Penghujungnya jadilah dia seorang yang dengki, ego dan individulistik, bakhil serta tamak terhadap dunia.

4. Kurang mengagungkan Allah

Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman menjadi lemah, tidak marah ketika larangan Allah dilecehkan orang. Tidak mengamal yang makruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.

5. Tidak belajar dengan Ayat Kauniah

Tidak terpengaruh dengan peristiwa-peristiwa yang dapat memberi pengajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan seumpamanya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai perkara biasa, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat. "Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahawa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pel ajaran?" (Surah At-Taubah, ayat 126)

kredit: Din


Salam Ukhuwah..~

Isnin, 6 Januari 2014

Adab Melepaskan Hajat



Seseorang yang ingin melepaskan hajatnya, hendaklah memilih tempat yang jauh dari pandangan orang ramai, seperti di tempat yang lapang.

Hendaklah ia menutup (berlindung) dengan sesuatu benda kiranya boleh didapat. Dan jangan ia tergesa-gesa memuka auratnya, sebelum sampai ke tempat duduk untuk melepaskan hajat itu. Janganlah hendaknya ia menghadap kiblat atau membelakanginya ketika itu. Juga janganlah hendaknya ia melepaskan hajatnya ditempat-tempat biasanya orang ramai berkumpul kerana berbual-bual atau duduk-duduk berehat. Janganlah ia membuang air kecil pada air yang bertakung (tidak mengalir), atau di bawah pokok yang berbuah atau di lubang. Juga jangan di tempat yang keras, atau di tempat tiupan angin agar terpelihara dari percikan air kencing itu, dan hendaklah ia mengiring (dengan punggungnya bertenggong) kepada kaki kirinya.

Apabila ia ingin membuang air kecil di dalam bangunan (tandas), maka hendaklah ia mendahulukan kaki kiri ketika memasukinya dan kaki kanan ketika keluar. Jangan pula ia membawa bersamanya ketika itu sesuatu yang tertulis padanya Allah Ta’ala atau nama RasulNya s.a.w.

Ketika masuk ia membaca:

“Dengan nama Allah saya berlindung denganNya dari gangguan syaitan, lelaki dan perempuan.”

Ketika keluar ia membaca:

“Segala kepujian bagi Allah yang telah menghapuskan dariku apa-apa yang boleh membahayakan aku, dan mengekalkan bagiku apa-apa yang boleh memberi manfaat kepadaku.”

Sesudah selesai buang air sebaik-baiknya ia beristibra’ (mengetus) tiga kali, dan janganlah ia memikirkan terlalu banyak beristibra’ itu, agar ia tiada berwaswas sehingga perkara ini merumitkannya. Jika ia merasakan ada sedikit basah, hendaklah ia menganggap itu sisa dari air. Ketahuilah bahawa orang yang paling ringan istibranya dikira paling pandai dalam ilmu fiqhnya, sebab waswas itu menunjukkan ilmu fiqhnya cetek.

Antara perkara yang diringankan lagi, membolehkan seseorang itu membuang air kecil berdekatan dengan rakannya, tetapi mestilah ada tutup antaranya. Yang demikian itu pernah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. sendiri padahal baginda amat pemalu orang nya, tetapi itu adalah untuk mengajar orang ramai tentang kebolehan melakukannya.

Cara beristinja’

Sesudah membuang air atau melepaskan hajat itu dia pun beristinja’ dengan tiga butir batu. Selain batu boleh boleh juga digunakan segala benda yang kasar tetapi suci.

Selanjutnya dia beristinja’ pula dengan air; iaitu dengan menyiram air dengan tangan kanan di tempat keluarnya najis itu, sedang tangan kirinya mengosok tempat itu sehingga tiada lagi yang tinggal dari bekas najis di situ. Ini dapat dirasakan oleh tapak tangan kiri yang menggosok tempat keluarnya najis tadi.

Hendaklah ia tiada melampau pada mengorek atau meraba bahagian di dalam (dubur), kerana yang demikian itu akan menimbulkan waswas pada diri. Ketahuilah mana tempat yang tiada boleh sampai kepadanya air itu dikira bahagian dalam, sedangkan hukum najis itu tidak terlibat pada kotoran-kotoran di segala bahagian dalam, selama ianya tiada terlihat atau dihukumkan pada hukum lahir.

Dan hukum najis itu hanya terkena pada bahagian-bahagian yang lahir saja, dan batasan pensuciannya ialah dengan menyampaikan air kepadanya dan menghilangkan najis itu dari situ. Dengan itu maka tidak perlu untuk ditimbulkan waswas lagi.

kredit: Bimbingan Mukmin


Salam Ukhuwah..~

Sabtu, 4 Januari 2014

Bakti Anak Kepada Ibubapa Yang Sudah Meninggal



Seseorang anak wajib mentaati dan berbakti kepada kedua-dua ibu bapanya, tetapi adakah ia memadai atau terbatas ketika mereka masih hidup sahaja? Di dalam al-Quran terdapat banyak ayat yang menyentuh atau memerintahkan agar seseorang anak berbakti atau membuat kebajikan terhadap kedua-dua ibu bapanya, dan ia tidak terbatas ketika mereka masih hidup. Terdapat beberapa amalan kebajikan yang boleh disumbangkan oleh seseorang anak kepada kedua-dua ibu bapanya setelah meninggal dunia.


1. Menjelaskan hutang.

Islam amat menitikberatkan persoalan memberi, menerima dan membayar semula hutang kerana ia melibatkan hubungan sesama manusia ketika hidup di dunia hingga ke akhirat kelak. Seseorang yang berhutang wajib menjelaskan segala hutangnya, dan sekiranya ia meninggal dunia sebelum sempat menyelesaikan hutangnya maka tanggungjawab untuk membayar hutang tersebut adalah ke atas warisnya. Semua hutang sama ada melibatkan orang perseorangan, pihak bank dan sebagainya hendaklah dibayar tanpa mengira jumlahnya yang sedikit ataupun banyak.


Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutangnya. (Riwayat Bukhari, Tirmizi, Nasai dan Ibnu Majah).

Abu Said r.a. berkata: Telah dibawa kepada Rasulullah s.a.w. jenazah untuk disembahyangkan, lalu baginda bertanya: Adakah mayat ini masih menanggung hutang? Sahabat menjawab: ``Ya, Rasulullah''. Baginda bertanya: Adakah ia ada meninggalkan harta kekayaan untuk membayarnya? Jawab sahabat: ``Tidak.'' Lalu baginda bersabda: Sembahyanglah kamu pada kawanmu itu. Baginda sendiri tidak turut serta menyembahyangkannya. Kemudian Ali bin Abi Talib berkata: ``Wahai Rasulullah, biarlah saya yang membayar hutangnya.'' Sesudah itu baginda segera maju untuk menyembahyangkan jenazah sambil berkata kepada Ali: Semoga Allah membebaskan tanggunganmu (dirimu) daripada api neraka, sebagaimana kamu telah membebaskan tanggungan saudaramu yang Muslim itu. Tidaklah seorang Muslim yang membayar hutang saudaranya melainkan Allah akan membebaskan tanggungannya (dirinya) daripada api neraka pada hari kiamat kelak.


Dalam hadis yang lain Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: Barangsiapa yang berhutang, kemudian ia berniat tidak akan membayar hutangnya, lalu ia mati, maka Allah akan bertanya pada hari kiamat: Apakah kamu mengira bahawa Aku tidak akan menuntut hak hamba-Ku? Maka diambil amal kebajikan orang itu dan diberikan kepada orang yang memberi hutang dan jika orang yang berhutang tidak mempunyai amal kebajikan, maka segala dosa orang yang memberi hutang itu, diberikan kepada orang yang berhutang.


2. Membayarkan zakat.

Seseorang yang meninggal dunia dan belum membayar zakat, maka wajib bagi warisnya menjelaskan zakat tersebut kerana zakat yang belum dibayar itu adalah hutang seseorang hamba kepada Allah s.w.t. Kewajipan membayarnya pula didahulukan sebelum menjelaskan hutang yang lain, memenuhi wasiat dan pembahagian harta pusaka.
Daripada Ibnu Abbas r.a. bahawa seorang lelaki telah datang kepada Rasulullah s.a.w. dan bertanya: ``Ibu saya telah meninggal dunia dan berhutang puasa selama satu bulan. Apakah saya perlu membayarkannya?'' 

Sabda Rasulullah s.a.w.: Sekiranya ibu kamu mempunyai hutang, adakah kamu akan membayarkannya? Jawab lelaki tersebut: ``Ya.'' Baginda menjawab: Hutang kepada Allah adalah lebih utama dibayar. (Riwayat Bukhari dan Muslim)


3. Mengqadakan puasa.

Waris atau anak-anak disunatkan supaya mengqada puasa ibu bapanya yang telah meninggal dunia, ia termasuk puasa Ramadan, puasa nazar dan puasa kafarah. Aisyah r.a. meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Barangsiapa yang mati sedangkan ia ada kewajipan berpuasa, maka walinya berpuasa untuknya. (Muttafaq Alaih) Daripada Ibnu Abbas r.a. katanya, bahawasanya seorang wanita berkata: Ya Rasulullah, ibu saya telah meninggal dunia sedangkan ia ada puasa nazar, adakah saya boleh berpuasa untuknya? Rasulullah s.a.w. bersabda: Bagaimana pendapatmu sekiranya ibu kamu mempunyai hutang dan kamu membayarkannya, tidakkah itu menunaikan hutangnya? Wanita itu menjawab: ``Ya.'' Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: Berpuasalah untuk ibumu. (Riwayat Bukhari dan Muslim)


4. Membayarkan fidyah puasa.

Fidyah puasa itu ialah memberi sedekah dalam kadar satu cupak makanan asasi penduduk sesebuah negara sama ada daripada beras, gandum atau seumpamanya. Di Selangor kadar satu cupak itu ialah 900 gram bersamaan RM1.10. Mereka yang diwajibkan membayar fidyah puasa ialah:

l.Orang sakit yang tidak ada harapan akan sembuh penyakitnya.

2. Orang tua yang tidak upaya berpuasa atau menemui kesukaran untuk
berpuasa dengan sebab tuanya.

Bagi mereka yang tersebut di atas yang tidak berupaya untuk berpuasa, maka diwajibkan bagi mereka memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan puasa dengan kadar satu cupak atau nilai yang bersamaan dengannya.

Firman Allah s.w.t. Dan wajib ke atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin. (Al-Baqarah : 184)


5. Mendoakan ibu bapa.

Doa anak yang soleh merupakan khazanah ibu bapa yang amat berharga. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, maka putuslah segala amalannya melainkan tiga perkara; sedekah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang soleh dan berdoa untuknya.


6. Menghubungkan tali silaturahim.

Menghubungkan tali silaturahim adalah termasuk dalam perkara yang amat penting dan ia merupakan salah satu tuntutan syariat yang harus mendapat perhatian utama daripada kaum Muslimin. Mengeratkan hubungan silaturahim dan berbuat baik dengan kaum kerabat dan sahabat ibu bapa adalah sebahagian daripada cara berbuat amal untuk kedua-duanya yang telah meninggal dunia.

Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan, Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik kebajikan adalah seseorang itu menghubungkan silaturahim dengan orang yang dikasihi bapanya. (Riwayat Muslim) Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Malik bin Rabi`ah as-Sa`idi, kami sedang duduk bersama Rasulullah s.a.w., datanglah seorang lelaki daripada Bani Salamah, ia bertanya kepada Rasulullah, ``Ya Rasulullah, masih adakah kebaikan (kewajipan) yang harus saya lakukan untuk berbakti kepada kedua-dua ibu bapaku setelah kedua-duanya meninggal dunia.'' Baginda menjawab: Ya ada, iaitu sembahyang atas(jenazah) kedua-duanya (maksudnya mendoakan kedua-duanya) dan memohon keampunan bagi kedua-duanya, memenuhi segala pesanannya (menyempurnakan janji mereka) setelah mereka meninggal dunia dan menghubungkan ikatan silaturahim yang tidak sampai serta menghormati para sahabat mereka. (Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)


7. Menziarahi kubur.

Menziarahi kubur ibu bapa adalah sunat muakad dan besar ganjaran pahalanya. Adalah lebih baik jika di-ziarahi pada setiap hari Jumaat dan dibacakan surah Yasin untuknya. Kelebihan mengenang ibu bapa dengan berdoa dan menziarahi kuburnya membawa kebajikan yang bukan sahaja kepada anak- anak yang soleh tetapi juga kepada anak yang derhaka. Dalam sebuah hadis diterangkan: Anak derhaka yang kematian kedua-dua ibu bapanya kemudian ia (menyesal dan bertaubat) dan sentiasa berdoa untuk kedua-duanya, nescaya ia diampuni Allah dan dianggap sebagai anak yang taat.


8. Menyelesaikan harta pusaka mengikut faraid.

Pembahagian harta pusaka hendaklah dibuat setelah dijelaskan segala hutang si mati sama ada hutang dengan Allah mahupun sesama manusia, wasiat dan segala perbelanjaan pengurusan jenazah.

Firman Allah s.w.t. Allah telah memerintahkan pembahagian harta pusaka terhadap anak-anak kamu iaitu bahagian seorang lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan. (An-Nisa :11) 9. Memohon keampunan bagi dosanya. Perkara yang paling mudah dan dapat dikerjakan oleh semua orang pada bila-bila masa ialah berdoa serta memohon keampunan bagi dosa kedua-dua ibu bapanya sama ada yang masih hidup lebih-lebih lagi yang telah meninggal dunia, seperti mana doa yang dianjurkan di dalam al-Quran Wahai Tuhan kami, berilah keampunan kepadaku dan kepada kedua-dua ibu bapaku dan juga kepada semua orang mukmin pada hari terjadinya hisab. (Ibrahim : 41)

Firman Allah s.w.t. Dan hendaklah engkau merendah diri kepada kedua- duanya
kerana belas kasihan dan kasih sayangmu dan doakanlah (untuk mereka), ``Wahai Tuhanku, cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya dengan memelihara dan mendidikku semasa kecil. (Al-Isra: 24)


10. Membuatkan haji untuknya.

Anak-anak digalakkan untuk membuatkan haji bagi kedua-dua ibu bapanya yang telah meninggal dunia yang belum sempat menunaikan haji. Ia boleh dilakukan dengan membuat sendiri (bagi yang telah menunaikan haji untuk diri sendiri) atau dengan cara mengupahkannya kepada orang lain. Walau bagaimanapun sekiranya kedua-dua ibu bapa telah bernazar untuk menunaikan haji tetapi tidak berkesempatan kerana telah meninggal dunia, maka wajib bagi waris atau anak melakukan haji untuknya dengan segala perbelanjaan adalah daripada harta peninggalan si mati.

Diterima daripada Ibnu Abbas r.a. bahawa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Rasulullah s.a.w. lalu bertanya: ``Ibuku telah bernazar untuk menunaikan haji tetapi ia meninggal dunia sebelum menunaikannya. Apakah saya akan melakukan di atas namanya?'' Jawab Baginda: Ya, berhajilah menggantikannya. Bagaimana pendapat kamu, jika berhutang apakah kamu akan membayarkannya? Oleh itu, bayarlah hutang kepada Allah kerana hutang kepada Allah adalah lebih utama dibayar.

Sebagai kesimpulannya, marilah sama-sama kita menghayati semula peranan seorang anak kepada ibu bapa. Tanpa mereka siapalah kita dan adakah kita boleh berada dalam keadaan dan kedudukan yang kita miliki pada hari ini? Sedarlah bahawa tanpa keredhaan mereka, kita juga tidak akan mendapat keredhaan Allah s.w.t. Semoga kita akan tergolong dalam golongan yang diredhai Allah. –

kredit: NURHELMI IKHSAN, Penolong Pegawai Hal Ehwal Islam, Jabatan Mufti Selangor.



Salam Ukhuwah..~

Jumaat, 3 Januari 2014

5 Perusak Hati




Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah niscaya dan wajib. Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, 'bergaul dengan banyak kalangan (baik dan buruk), angan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur.'

1. Bergaul dengan banyak kalangan
Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif.

Dalam tataran riel, kita sering menyaksikan orang yang hancur hidup dan kehidupannya gara-gara pergaulan. Biasanya out put semacam ini, karena motivasi bergaulnya untuk dunia. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Karena itu, kelak di akhirat, banyak yang menyesal berat karena salah pergaulan. Allah berfirman:

"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, 'Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku." (Al-Furqan: 27-29).

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).
"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong." (Al-Ankabut: 25).

Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika ada hasil duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pertemanan itu akan melahirkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat. 


Karena itu, dalam bergaul, berteman dan berkumpul hendaknya ukuran yang dipakai adalah kebaikan. Lebih tinggi lagi tingkatannya jika motivasi pertemanan itu untuk mendapatkan kecintaan dan ridha Allah.

2. Larut dalam angan-angan kosong
Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya, khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai. Angan-angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah.

Masing-masing sesuai dengan yang diangankannya. Ada yang mengangankan menjadi raja atau ratu, ada yang ingin keliling dunia, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan melimpah, atau isteri yang cantik jelita. Tapi itu hanya angan-angan belaka.

Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi s..a.w. memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.

3. Bergantung kepada selain Allah
Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah.

Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, artinya:

"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)

"Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75)

Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh.

Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista. Allah berfirman, artinya: "Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Al-Isra': 22)

Terkadang keadaan sebagian manusia tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebatilan. Sebagian lagi terkadang tercela tapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara batil. Sebagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong.

4. Makanan
Makanan perusak ada dua macam.

Pertama , merusak karena dzat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam. Yang diharamkan karena hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena paksaan, malu atau takut terhina.

Kedua , merusak karena melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama. Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi. Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan:

"Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).

5. Kebanyakan tidur
Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan.

Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya.

Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara shalat Shubuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rizki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa.

Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada dokter. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam .

kredit: Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah/Abu Okasha Ainul Haris


Salam Ukhuwah..
~

Khamis, 2 Januari 2014

Hamba Yang Banyak Celanya

Gambar sebagai hiasan sahaja.

Sekali peristiwa ketika saya pergi untuk membeli-belah di pasar, saya melalui pasar hamba, dan saya terlihat di sana ada seorang saudagar yang sedang menawarkan seorang hamba, yang usianya masih keeil lagi, katanya berulang kali:

'Siapakah ingin membeli hamba yang banyak celanya ini?' Kemudian diulangi lagi kata-kata itu berkali-kali. Sudah tentulah tidak ada orang yang mahu membelinya. Saya lalu menghampiri saudagar itu seraya bertanya kepadanya: 'Apakah cela hamba ini?'

Saudagar itu tidak menjawab, tetapi disuruhnya saya sendiri menanyakan hamba itu tentang keaibannya. Maka saya merenung wajah hamba itu, lalu bertanya kepadanya pula:

'Apa cela yang ada padamu itu?'

'Cela hamba sangat banyak,' jawab hamba itu. 'Akan tetapi saya sendiri tidak mengerti cela yang mana satu yang dimaksudkan oleh tuan pemilikku, sehingga dia memberiku gelaran sebagai hamba yang paling banyak celanya.

Saya berpaling semula kepada pemilik hamba itu dan bertanya sekali lagi: 'Cela yang mana satu yang tuan maksudkan?'

'Mmm, hamba ini mengidap penyakit gila,' jawab saudagar itu. 'Penyakit gila?' Saya merenung wajah saudagar itu. Dalam hatiku mengatakan tidak mungkin. Orang gila tak akan begini jawabnya.

'Betulkah engkau mengidap penyakit gila?' tanyaku ingin tahu. 'Begitulah seperti kata tuan pemilikku,' dia menjawab penuh ragu dan tidak jelas.

'Kalau betul pun, pada saat apakah penyakit itu datang?' tanyaku lagi. 'Adakah setiap hari, atau setiap minggu, atau sebulan sekali? Tolonglah terangkan!'

'Tuan, bila penyakit itu menggusir di hati hamba, maka berjalanlah la ke seluruh anggota badanku, kemudian ke dalam jiwaku. Maka ketika itu akan berubahlah akalku, kemudian tanpa kurasakan lagi lisanku menyebut-nyebut nama yang paling kucinta'. Akhirnya penyakit itu membuat hatiku benar-benar terpancang kepadaNya. Sementara itu badanku tidak bergerak sedikit pun. Maka dengan sebab itulah, orang bodoh yang melihatku dalam keadaan demikian akan menuduhku 'orang gila', sedang aku sendiri tidak memahami rnengapa orang boleh mengatakan begitu, kerana mungkin dia tidak pernah mengalami apa yang pernah aku alami itu.'

Mendengar apa yang dikatakan oleh hamba itu, teringat di dalam hatiku, bahawa dia termasuk di antara kekasih Allah. Orang 'bodoh' seperti yang diungkapkan hamba itu memang mementingkan kulit saja, tidak kenal isi. Saya Ialu mendekati pemiliknya dan bertanya: 'Berapakah harganya?'

'Dua ratus dirham,' jawabnya mahu tak mahu. 'Nah' ini dua ratus dirharn harganya,' sambil menghulurkan wang itu, 'dan ini dua puluh dirham lagi, aku tambah untukmu,' kataku lagi.

Saya pun mengajak hamba itu pulang ke rumah. Tiba di rumah, saya menyuruhnya masuk, tetapi rnulanya ia enggan, seraya bertanya:

'Tuan tidak rnempunyai keluarga?!' dia bertanya kepadaku. 'Ada,' 'jawabku pendek.

'Maaf,' katanya, 'tidak boleh seseorang itu bertemu dengan selain keluarganya sendiri.'

'Tidak mengapa, aku benarkan kau masuk ke dalam, kataku lagi.

'Semoga Allah memelihara hamba dari segala dosa,' ujarnya.

'Tidak mengapalah, biar hamba duduk di luar saja. Sekiranya tuan memerlukan sesuatu, hamba bersedia untuk rnengerjakannya tanpa memasuki rumah.'

Bagaimana hamba ini? Aku ingat di dalam hati. Kelihatannya dia terlalu warak dan menjaga selok-belok agamanya dengan baik. 'Baiklah, kalau begitu! jawabku kepadanya.

Saya terus memasuki rumah untuk mengambil makanan dan minuman untuk memberikannya kepada hamba itu, tetapi ia menolaknya dengan alasan ia sedang berpuasa. Pada waktu malam, hamba itu berada sendirian di kamarnya di luar rumah. Saya lihat senyap sahaja tiada berbunyi. Maka pada tengah malam saya keluar untuk mengintipnya, dan saya dapati ia sedang bersholat dengan khusyuknya. Dia tidak sedar saya sedang mengintipnya. Selesai dari sholat ia terus sujud menangis serta berdoa.

'Ya Allah! Ya Tuhan hamba! Semua raja telah menutupi pintu rumahnya, namun pintu Tuan sajalah yang tetap terbuka luas bagi siapa yang ingin memintamu! 'Ya Tuhan! Bintang-bintang di langit semuanya berkelip-kelipan, mata-mata insan pula sedang tertutup kerana nyenyak dalam tidur, namun Dikaulah Zat yang sentiasa sedar selamanya, tidak pernah mengantuk atau tidur.

'Ya Allah! Kalau ada seorang sedang berkumpul dengan kekasihnya, maka Dikaulah kekasih bagi orang yang benar-benar mengenal cinta.

'Ya Allah! Kalau Tuan mengusir hamba, ke manakah hamba akan pergi.

'Ya Allah! jika Tuan menjauhkan hamba dari pintuMu, siapakah hamba akan mengetuk lagi?

'Ya Allah! jika Tuan akan menyiksa hamba, memang sepantasnyalah, sebab hamba tergolong orang-orang yang berdosa. Namun, Jika Tuan memberi maaf, memanglah Tuan adalah Maha Pemaaf dan Belas-kasih kepada semua hambaMu, kerana Dikaulah Maha Dermawan!'

Sesudah itu, anak itu bangun dari sujudnya seraya menangis, lalu mengangkat kepalanya lagi dan berdoa:

'Ya llahi! KepadaMulah siapa yang dekat denganmu beramal. Dengan kurnia Tuan, selamatkanlah hamba-hambamu yang salih dari kebinasaan. Dengan rahmat Tuan, sedarkanlah hamba-hambamu yang tersesat supaya kembali ke jalan yang lurus. Wahal Zat yang Baik! Berilah hamba kemaafan, berilah hamba maghfirah dan keampunan, sesungguhnya Tuan adalah Zat Pemberi maaf terhadap segala kesalahan hambanya!' Mendengar doa hamba itu, tidak terbayangkan lagi keharuan di hatiku, lalu saya meninggalkan tempat itu, supaya tidak mengganggu kekusyukan hamba itu. Pagi-pagi saya datang untuk menemuinya dan bertanya sapa kepadanya. Saya memberi salam kepadanya seraya bertanya:

Anakku! Bagaimana tidurmu semalam, tenangkah?' saya pura-pura tanya tidak tahu.

'Bolehkah tidur mata yang benar-benar takutkan api neraka?' tanya dia kembali kepadaku.

'Lagi,' kataku hendak mendengar seterusnya.

'Bolehkah tidur mata yang selalu mengingat perhitungan amal di Mahsyar nanti, serta membayangkan saat dan ketika dihadapkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa?' hamba itu kemudian menangis terisak-isak.

'Anakku! Aku merdekakan dirimu semata-mata kerana Allah,' kataku kepadanya.

Dia tidak menjawab, tetapi justeru dia semakin menangis. Tidak lama kemudian ia berkata pula: 'Tuan!' katanya kepadaku. 'Hamba dulu mendapat dua pahala, iaitu pahala beribadah dan pahala melayani tuan. Kini satu daripadanya sudah dibebaskan, tinggal satu lagi, iaitu beribadat kepada Tuhan.' 'Ya, saya faham maksudmu itu, sebab itu saya merdekakanmu,' kataku kepadanya lagi.

'Terima kasih, dan semoga Allah menyelamatkan tuan dari api neraka!' doanya untukku pula. Saya pun memberinya wang untuk keperluannya, dan membenarkan dia pergi, kerana dia sudah menjadi orang merdeka sekarang, Dia lalu mengucapkan setinggi terima kasih lagi kepadaku, tetapi wang yang kuberikannya itu ditolaknya sambil berkata:

'Tuhan yang memberiku rezeki sewaktu hamba di perut ibu, Dialah nanti yang akan menanggung rezeki hamba saat hamba berada di atas buminya ini!' Hamba itu kemudian pergi meninggalkanku, dan sesudah itu saya tidak pernah lagi bertemu dengannya. 'Ya Allah! Berilah hambamu ini taufiq dan hidayah, sebagaimana Dikau telah menganugerahkannya kepada para kekasih dan orang pilihanmu, Amin.

kredit: Syeikh Abdurrahman AI-Muhazzab


Salam Ukhuwah..~

Rabu, 1 Januari 2014

Berkat Rezeki Kerana Sedekah



Kekayaan tidak membawa erti tanpa ada keberkatan. Dengan adanya keberkatan, harta/rezeki yang sedikit akan dirasakan seolah-olah banyak dan mencukupi. Sebaliknya tanpa keberkatan akan dirasakan sempit dan susah meskipun banyak harta.

Dalam kisah Nabi-Nabi, ada diceritakan Nabi Ayub a.s. ketika sedang mandi tiba-tiba Allah datangkan seekor belalang emas dan hinggap di lengannya. Baginda menepis-nepis dengan bajunya. Lantas Allah berfirman 'Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya?' Nabi Ayub menjawab 'Ya benar, demi keagunganMu apalah makna kekayaan tanpa keberkatanMu'. Kisah ini menegaskan betapa pentingnya keberkatan dalam rezeki yang dikurniakan oleh Allah.

Cara untuk mendapatkan keberkatan daripada Allah.

1. Bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah.

2. Belanjakan harta pada jalan yang diredhai oleh Allah.

3. Berusaha untuk mendapatkan rezeki yang halal

4. Keluarkan sedekah wajib (zakat) jika sampai nisab dan berikan sedekah sunat kepada orang miskin dan anak yatim.

5. Bersedekah kepada anak yatim/miskin kalau boleh setiap hari. (cari anak-anak yatim untuk diberikan). Insya Allah akan diganti oleh Allah tanpa kita sedari.

6. Ikhlaskan pemberian/sedekah hanya kepada Allah bukan mengharapkan pujian dan sebagainya. (Pemberian tangan kanan tanpa diketahui tangan kiri). Sedekah mulakan dengan keluarga sendiri dahulu selepas itu barulah kepada jiran dan orang-orang yang lebih jauh. Jangan anggap pemberian itu hak kita sebenarnya dalam harta kita ada hak mereka.

7. Hulurkan pemberian sunat secara rahsia - tetapi pemberian wajib (zakat) perlu diberi secara terangan sebagai menegakkan syiar Islam.

8. Konsep sedekah : berikan sesuatu yang kita sayangi. Ini jelas dalam ayat Quran Ali Imran ayat 92

9. Cari harta dunia untuk dijadikan bekalan akhirat. (Dunia untuk akhirat - bukan dunia untuk dunia)

10. Amalan yang diberkati ialah hasil peluh sendiri dan juga melalui jualbeli (perniagaan). Menurut Nabi 9/10 (90%) daripada sumber rezeki ialah berpunca daripada perniagaan. Makan gaji mungkin 1/10 sahaja (10%). Nabi Muhammad s.a.w. sendiri sebelum diutus menjadi Rasul adalah seorang ahli perniagaan yang jujur, cekap dan amanah. Peniaga yang amanah akan dibangkitkan bersama para Nabi dan Rasul di akhirat kelak. Perniagaan merupakan amalan fardu kifayah. Barang makanan orang Islam sepatutnya dikeluarkan sendiri oleh orang Islam. Kalau tidak ada menjalankan aktiviti ini, seluruh umat Islam berdosa.

11. Hulurkan bantuan kepada janda yang ketiadaan suami.

Dalam satu hadith, Nabi s.a.w. menerangkan setiap awal pagi, semasa terbit matahari ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru 'Ya Tuhanku, kurniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerana Allah. Yang satu lagi menyeru 'Musnahkanlah orang yang menahan hartanya (lokek)'

Orang yang bakhil tidak manfaatkan hartanya untuk dunia dan akhiratnya. Menginfaqkan (Belanjakan) harta adalah berkat, sebaliknya menahannya adalah celaka. Dalam hadith lain, Nabi s.a.w. bersabda takutilah api neraka walaupun dengan sebelah biji tamar. Dan sabdanya lagi Sedekah itu penghapus dosa sebagaimana air memadam api.

Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah. Dan digalakkan memberi sedekah pada awal pagi.

Sekiranya dapat diamalkan perkara-perkara di atas, insya Allah rezeki yang dikurniakan oleh Allah akan kekal walaupun telah digunakan. Allah akan membalas atau menggantikan apa yang telah dibelanjakan. Amalkan ilmu yang ada, nanti Allah akan menambahkan ilmu lagi. Begitu juga harta - belanjakan harta yang ada, Allah akan tambahkan lagi dari sumber yang kita tidak ketahui.

kredit: rakangroup


Salam Ukhuwah..~