Bacaan Popular

Sabtu, 18 Januari 2014

Kesah Pemuda Arab di Amerika



Ada seorang pemuda arab yang baru saja menyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah SWT berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani. Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang terdapat di kampung tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk.

Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, “Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini.” Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, “Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.” Barulah pemuda ini beranjak keluar.

Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pendeta, “Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim.” Pendeta itu menjawab, “Dari tanda yang terdapat di wajahmu.” Kemudian ia beranjak hendak keluar. Namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut.

Sang pendeta berkata, “Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat.”

Si pemuda tersenyum dan berkata, “Silahkan!

Sang pendeta pun mulai bertanya, “Sebutkan satu yang tiada duanya, dua yang tiada tiganya, tiga yang tiada empatnya, empat yang tiada limanya, lima yang tiada enamnya, enam yang tiada tujuhnya, tujuh yang tiada delapannya, delapan yang tiada sembilannya, sembilan yang tiada sepuluhnya, sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh, sebelas yang tiada dua belasnya, dua belas yang tiada tiga belasnya, tiga belas yang tiada empat belasnya.

Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh! Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya? Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah SWT namun Dia tidak menyukainya? Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah SWT dengan tanpa ayah dan ibu! Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api? Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yang diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara dari batu?

Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah SWT dan dianggap besar! Pohon apakah yang mempunyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?”

Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah SWT, Setelah membaca basmalah ia berkata, 

Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.

Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT swt SWT berfirman, “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).” (Al-Isra’: 12).
Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan al-Qur’an.
Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ketika Allah SWT menciptakan makhluk.
Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk: 3).
Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman, ”Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” (Al-Haqah: 17).
Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa a.s yaitu tongkat, tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang.*
Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.” (Al-An’am: 160).
Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Yusuf a.s
Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu’jizat Nabi Musa a.s yang terdapat dalam firman Allah SWT swt, “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air.”(Al-Baqarah: 60).
Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan ibunya.

Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh. Allah SWT ber-firman, “Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing.” (At-Takwir: 18).

Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf a.s yakni ketika mereka berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala.” Setelah kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, ” tak ada cercaaan terhadap kalian.” Dan ayah mereka Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Sesuatu yang diciptakan Allah SWT namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara kele-dai.” (Luqman: 19).
Makhluk yang diciptakan Allah SWT swt tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT swt SWT berfirman, “Wahai api dinginlah dan selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69).
Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah tentara bergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ashhabul Kahfi (penghuni gua).
Sesuatu yang diciptakan Allah SWT dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana firman Allah SWT ”Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.” (Yusuf: 28).
Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan 2 di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.

Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawaban pemuda muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta. Pemuda ini berkata, “Apakah kunci surga itu?” mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Mereka berkata, “Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya!” Pendeta tersebut berkata, “Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah.” Mereka menjawab, “Kami akan jamin keselamatan anda.” Sang pendeta pun berkata, “Jawabannya ialah: “Asyhadu an La Ilaha IllAllah SWT wa anna Muhammadar Rasulullah.”

Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam. Sungguh Allah SWT telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.

kredit: Zaky el anshory


Salam Ukhuwah..~

Jumaat, 17 Januari 2014

Cara Mendapatkan Iman



Banyak orang menyangka ia orang beriman. Tetapi bila diuji keimanan mereka oleh Allah menerusi solat, ibadat, kesusahan, penyakit dan sebagainya, ternyata mereka sebenarnya tidak beriman yang sebenar. Mereka menyangka mereka beriman kerana mereka beriman secara keturunan. Bapanya Islam, maka dia pun Islam. 

Iman perlu diusahakan untuk memperolehinya. Bagaimanakah hendak mendapat Iman?

1.Melalui mujahadatunnaf. 

Mujanadatunnaf ialah berjuang melawan hawa nafsu jahat dan melawan bisikan syaitan yang sentiasa mengajak dan mendorong kita ke jalan kejahatan. 

Latihan-latihannya adalah melalui 3 peringkat iaitu: 

a ) Takhalli : Takhalli ialah berusaha berjuang membuang segala sifat-sifat jahat atau membersihkan jiwa kita daripada sifat jahat atau mazmunah 

b) Tahalli : Tahalli ialah mengisi jiwa kita dengan sifat baik (Mahmudah). Setelah kerja pembersihan selesai kita isi pula wadah (jiwa dan hati) dengan perkara baik. 

c) Tajalli : Peringkat Tajalli ialah peringkat merasa nikmat meninggal atau membuang sifat jahat dan merasa nikmat mengisi atau melakukan sifat baik serta merasa keagungan dan kehebaan Allah. Orang yang dapat membuang sifat-sifat jahat dan dapat pula menghiasi dirinya dengan sifat baik, Allah akan singkap hatinya dapat merasa nikmatnya beribadah dan nikmat sentiasa mengingat Allah dan sentiasa ingin membuat kebaikan.

2. Cara atau peringkat kedua ialah melalui mengerjakan amalan sunat. Terutama sembahyang sunat khususnya di waktu malam (sembahyang tahajjud). Selain daripada amalan sembahyang sunat ialah puasa sunat, berdoa, baca Al Quran dan sebagainya.

3. Cara dan peringkat ketiga untuk mendapatkan iman ialah melalui tafakur. Tafakur atau berfikir atau merenung ialah salah satu cara mendapatkan iman. Khususnya merenung dan berfikir akan kebesaran Allah dan kehebatan serta hikmah sesuatu yang dijadikan oleh Allah sama ada berbentuk benda (alam, muka bumi, bintang dan lain-lain) dan juga kejadian-kejadian ke atas diri kita seperti nikmat dan ujian. Semuanya mempunyai hikmah yang kalau kita renungkan akan mendapat iman.

Jelaslah bahawa iman perlu diusahakan untuk mendapatkannya. Susah payah pasti akan diharungi. Pengorbanan perlu dilakukan. Siapa yang memperolehi iman secara mudah, contohnya seperti orang Melayu yang memperolehi iman secara keturunan, biasanya amat mudah pula mereka merosakkannya. Siapa yang memperolehi iman secara susah payah,maka dipeliharanya iman mereka. 


CARA MEMELIHARA IMAN

Iman perlu dipelihara kerana ia akan dirosakkan oleh nafsu dan syaitan. Dengan itu ada orang beriman yang kemudiannya jadi tidak beriman kerana imannya telah dirosakkan. Cara memelihara iman:

1.Mengawal iman supaya tidak rosak. Iman boleh rosak menerusi Iktiqad seperti meragui hadis Nabi, meragui hukum dan undang-undang Islam dan sebagainya. 

Perkataan atau ucapan seperti menghina Rasulullah, tidak yakin hukum Allah dan sebagainya. Perbuatan seperti melakukan perbuatan syirik, memohon pertolongan kepada selain dari Allah.

2.Menjaga Iman
Iman yang telah ada pada kita kena dikawal dengan beberapa sifat diri kita. 

Yakin pada agama Allah dan perintahnya Ikhlas dalam melakukan amalan. Contohnya solat hendaklah atas niat taat kepada Allah bukan kerana menunjuk atau kerana malu atau kerana dipaksa. Selalu melakukan amalan sunat Istiqamah dalam ibadat. Ibadat yang kita lakukan hendaklah berkekalan, bukan dikerjakan secara bermusim, atau bila lapang baru buat. Beramal dengan penuh tertib dan khusyuk.

kredit: rakangroup


Salam Ukhuwah..~

Khamis, 16 Januari 2014

Al Quran Penyuluh Hidup



Al-Quran juga adalah hidayah petunjuk ke jalan diredhai Allah yang memimpin manusia mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Al-Quran secara khusus menjadi sinaran rahmat yang menyuluhi setiap detik kehidupan orang yang beriman.

Ini adalah seruan suci Allah SWT kepada umat manusia supaya mereka dapat hidup bahagia di dunia dan akhirat dengan syarat berpegang teguh dengan ajaran dan hukum hakam yang telah ditetapkan-Nya.

Risalah Islam diturunkan sebagai satu cara hidup yang lengkap dan menyeluruh buat mengatur kehidupan manusia sejagat ke arah kebahagiaan abadi di bawah keredhaan Ilahi. Ini bermakna jalan keluar sudah sedia ada, penawar di depan mata, maka terserahlah kepada umat manusia memilih sama ada hendak hidup berbahagia atau sebaliknya.

Akhirnya, umat Islam wajib bermuhasabah dan merenungi diri nasib mereka yang sudah sekian lama tercalar. Maka, inilah masanya untuk kembali kepada al-Quran dan sunnah Rasulullah SAW, mudah-mudahan dapat memartabatkan kembali imej sebagai umat terbaik dan umat contoh.

Setiap Muslim seharusnya bersama mencontohi kehidupan Rasulullah SAW dalam setiap aspek supaya keadilan Islam dapat menghiasi kembali kemakmuran bumi Allah SWT dan Islam menerajui kepimpinan manusia ke arah keharmonian, kesaksamaan dan kesejahteraan.

kredit: DR. ENGKU AHMAD ZAKI ENGKU ALWI



Salam Ukhuwah..~

Rabu, 15 Januari 2014

8 Perkara Bantu Tingkat Kesabaran




SABAR dipandang mulia di sisi Allah kerana mendatangkan banyak kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain. Sikap itu perlu diamalkan setiap masa dalam kehidupan seharian.

Keperluan sabar dikategorikan kepada dua perkara iaitu sabar menahan diri daripada perkara yang disukai, tetapi dilarang oleh agama.

Satu lagi sabar bermaksud menahan diri daripada keadaan yang tidak disukai atau kesusahan yang dihadapi.

Sabar bererti menahan diri daripada mengikut kehendak hati atau perasaan yang mendorong melakukan perbuatan yang mendatangkan keburukan. Menahan diri ketika penderitaan, sanggup melakukan perkara sukar demi mendapat kebaikan dan bersedia menghadapi tempoh panjang untuk mendapatkan sesuatu.

Allah menyebut orang bersabar bakal mendapat kegembiraan, petunjuk, keberkatan dan rahmat daripada-Nya.

Sebab itu setiap orang mesti bersabar dalam menghadapi segala cabaran hidup. Janji dan jaminan yang diberikan oleh Allah kepada orang yang bersabar adalah bukti kebaikan yang tiada tolok bandingnya.

Dr Yusof Al Qardhawi berkata ada lapan perkara yang boleh membantu meningkatkan kesabaran seseorang, iaitu:

1. Mengenali hakikat hidup di dunia yang penuh cabaran dan sementara.

2. Mengenali bahawa diri ini milik Allah dan manusia mempunyai had tertentu.

3. Yakin setiap perbuatan baik akan mendapat ganjaran Allah.

4. Yakin bahawa Allah akan membantu hambanya.

5. Berusaha mencontohi orang sabar.

6. Sentiasa memohon pertolongan dan keredaan Allah.

7. Sentiasa beriman kepada qadar dan sunnah Allah.

8. Berusaha menjauhi penyakit penghalang sabar seperti marah, sedih berlebihan, putus asa dan gopoh-gapah.

Sabar boleh dibentuk dengan adanya harapan dan cita-cita untuk mendapatkan sesuatu. Hal ini kerana seseorang itu pasti berusaha bersungguh-sungguh berlandaskan kesabaran untuk mencapai hasrat hati.

Ibnu Qayim dalam bukunya, Al Madaraji menyebut hukum bersabar itu adalah wajib.

Sifat sabar adalah kunci kejayaan, insan yang tidak tekun dan tidak sabar dalam menuntut ilmu tidak memperoleh pengetahuan. Pekerja yang tidak sabar dalam pekerjaan tidak akan dapat menyiapkan tugasnya mengikut jadual dengan mutu yang baik.

Kesabaran sangat dikehendaki dan ada batasnya. Kita perlu mengelakkan sesuatu pihak menggunakan sifat kesabaran yang ada pada diri sebagai senjata memusnahkan diri kita.

Oleh itu, setiap insan perlu mempunyai tahap sabar yang tinggi bagi mengatasi apa juga persoalan kehidupan. Ia bagi memastikan kehidupan dapat ditempuhi dalam keimanan tinggi.


kredit: rakangroup


Salam Ukhuwah..~

Selasa, 14 Januari 2014

5 Tahap Iman



IMAN TAQLID
Iman ikut-ikut atau Iman 'pak turut'. Orang yang beriman Taqlid, pegangan Islamnya tidak kuat dan prinsip Islamnya tidak kukuh. Dia tidak ada alasan yang kuat mengapa dia beriman. Dia ada dalil-dalil akal dan Al-Quran/as-Sunnah untuk membuktikan keyakinannya. Mengikut qaul yang lebih jelas,Iman Taqlid ini tidak sah. Segala amal ibadat orang yang beriman Taqlid adalah tertolak dan tidak mendapat pahala di sisi Allah Taala.

IMAN ILMU
Iman berdasarkan Ilmu.Iaitu seorang yang telah mempelajari tentang Allah,Malaikat2, Rasul2 dan Nabi,Kitab2, hari Qiamat dan lain-lain yang diwajibkan mengimaninya. Iman dan keyakinannya berasa dan kuat bertunjang pada akal. Iqtikadnya disertai dengan dalil-dalil yang kuat serta pegangan yang kukuh. Dia tidak mudah goyang atau terpengaruh dengan ideologi lain.

Tetapi orang yang beriman Ilmu,tidak takut akan Allah Taala dan mudah berbuat derhaka kepada-Nya. Mereka juga hanya mampu memperkatakan Islam, tetapi tidak mampu berbuat atau mengamalkannya. jadi, Iman Ilmu belum lagi dapat menyelamatkan seseorang itu dari neraka Allah.

IMAN 'AYYAN
Hasil daripada tarbiyah dan mujahadah yang bersungguh-sungguh orang yang beriman Ilmu akan meningkat kepada Iman 'Ayyan. Imannya bertempat di hati, bukan lagi di fikiran. Hati orang-orang yang beriman 'Ayyan sentiasa mengingati Allah, ibadahnya khusyu' dan ia sentiasa merasa kebesaran Allah Taala.Pabila disebut nama Allah, gementar hatinya.

Semua perintah Allah Taala dipatuhi dengan penuh rela dan kesungguhan. Ia terlalu sensitif dengan dosa serta sangat berakhlak dengan Allah dan manusia. Setiap ujian dihadapi dengan penuh sabar. Ia juga sentiasa mendapat bantuan dan pertolongan dari Allah Taala. Orang yang berada di peringkat Iman 'Ayyan tidak lama dihisab di Akhirat dan ia mudah masuk Syurga.

IMAN HAQ
Seseorang yang mencapai Iman Haq, mata hatinya melihat Allah Taala. Ertinya setiap kali melihat kejadian dan kebesaran Allah Taala, hati dan fikirannya tertumpu kepada Allah. tersa takut dan hebat kepada Allah setiap masa. Hatinya tidak lekang mengingati Allah dan sentiasa karam serta khusyu' dalam kesyahduan cinta pada Rabb. Hatinya tidak terpaut dengan dunia dan ia tidak dapat dilalaikan oleh nafsu mahupun Iblis laknatullah. Mereka yang beriman 'Ayyan digelar Muqarrobin oleh Allah Taala,yakni orang yang hampir dengan-Nya.

IMAN HAKIKAT
Inilah peringkat iman yang paling sempurna dan tertinggi yang dimiliki oleh Rasul2, Nabi2, khulafa' ar-Rasyideen serta wali-wali besar. Mereka akan ditempatkan oleh Allah Taala di dalam Syurga yang paling tinggi. Hidup mereka setiap masa asyik dangan ibadah. Ibadah mereka cukup hebat, solat sunat paling kurang 300 rakaat sehari semalam. Budi serta akhlak adalah yang terbaik dan paling terpuji.

Allah Taala akan menurunkan barakah di mana sahaja mereka berada. Mereka digelar golongan 'superscale' Akhirat. Hidup dalam Syurga yang maha Indah lagi maha lazat. Allah mengurniakan yang sedemikian itu sebagai membalas cinta dan pengorbanan hakiki yang cukup besar semata-mata kerana Allah !

Di manakah tahap keimanan kita ? Sama-samalah kita sentiasa memuhasabah diri serta mempertingkatkan keimanan kita dengan mengerjakan amalan kebaikan dengan bersungguh-sungguh, iltizam dan istiqomah. Berbahagialah dengan berita gembira dari Allah Taala dalam surah Ali Imran, ayat 139 :

Maksud :Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.

kredit: rakangroup


Salam Ukhuwah..~

Isnin, 13 Januari 2014

Perkara Yang Merosakkan Ukhuwah



Perkara-Perkara Yang Dapat Merosakkan Ukhuwah, Di Antaranya Adalah :

1. Tamak Dan Rakus Terhadap Dunia, Terhadap Apa-Apa Yang Dimiliki Orang Lain.

Rasulullah SAW. Bersabda;
" Zuhudlah terhadap dunia, Allah akan mencintai kamu. Zuhudlah terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, mereka akan mencintai kamu. "
HR Ibnu Majah

Jika kamu tertimpa musibah, mintalah musyawarah kepada saudaramu dan jangan
meminta apa yang engkau perlukan. Sebab jika saudara atau temanmu itu memahami keadaanmu, ia akan terketuk hatinya untuk menolongmu, tanpa harus meminta atau menitiskan airmata.

2. Maksiat Dan Meremehkan Ketaatan.

Jika di dalam pergaulan tidak ada nuansa zikir dan ibadah, saling menasihati, mengingatkan dan memberi pelajaran, bererti pergaulan atau ikatan persahabatan itu telah gersang disebabkan oleh kerasnya hati dan perkara ini boleh mengakibatkan terbukanya pintu-pintu kejahatan sehingga masing-masing akan saling menyibukkan diri dengan urusan yang lain. Padahal Rasulullah SAW bersabda;
" Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak menzaliminya dan tidak menghinakannya. Demi Zat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, Tidaklah dua orang yang saling mengasihi, kemudian dipisahkan antara keduanya kecuali hanya kerana satu dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya. "
HR Ahmad

Ibnu Qayim, dalam kitab "Al-Jawabul Kafi" mengatakan, " Di antara akibat dari perbuatan maksiat adalah rasa gelisah ( takut dan sedih ) yang dirasakan oleh orang yang bermaksiat itu untuk bertemu dengan saudara-saudaranya. "

Orang-orang ahli maksiat dan kemungkaran, pergaulan dan persahabatan mereka tidak dibangun atas dasar ketakwaan melainkan atas dasar kebendaan sehingga akan dengan mudah berubah menjadi permusuhan. Bahkan perkara itu nanti akan menjadi beban di hari kiamat. Allah SWT berfirman;
" Pada hari itu sahabat-sahabat karib: Setengahnya akan menjadi musuh kepada
setengahnya yang lain, kecuali orang-orang yang persahabatannya berdasarkan takwa ( iman dan amal soleh ). "
Q.S Az-Zukhruf : 67

Sedangkan persahabatan kerana Allah, akan terus berlanjutan sampai di syurga;
" Dan Kami cabut akan apa yang ada di hati mereka dari perasaan hasad dengki sehingga menjadilah mereka bersaudara ( dalam suasana kasih mesra ), serta mereka duduk berhadap-hadapan di atas pelamin masing-masing. "
Q.S Al-Hijr : 47

3. Tidak Menggunakan Adab Yang Baik (Syar'i) Ketika Berbicara.

Ketika berbicara dengan saudara atau kawan, hendaknya seseorang memilih perkataan yang paling baik. Allah berfirman;
" Dan katakanlah ( wahai Muhammad ) kepada hamba-hambaKu ( yang beriman ), supaya mereka berkata dengan kata-kata yang amat baik ( kepada orang-orang yang menentang kebenaran ); sesungguhnya Syaitan itu sentiasa menghasut di antara mereka ( yang mukmin dan yang menentang ); sesungguhnya Syaitan itu adalah musuh yang amat nyata bagi manusia. "
Q.S Al-Israa? : 53

Dalam sebuah hadith Nabi SAW bersabda;
" Kalimah thayibah adalah shadaqah. "
HR Bukhari

4. Tidak Memperhatikan Apabila Ada Yang Mengajak Berbicara Dan Memalingkan Muka Darinya.

Seorang ulama salaf berkata, " Ada seseorang yang menyampaikan hadith sedangkan aku sudah mengetahui perkara itu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya. Akan tetapi, akhlak yang baik membawaku untuk tetap mendengarkannya hingga ia selesai berbicara. "

5. Banyak Bercanda Dan Bersenda Gurau.

Berapa ramai orang yang putus hubungan satu sama lainnya hanya disebabkan oleh canda dan senda gurau.

6. Banyak Berdebat Dan Berbantah-Bantahan.

Terkadang hubungan persaudaraan terputus kerana terjadinya perdebatan yang sengit yang boleh jadi itu adalah tipuan syaitan. Dengan alasan mempertahankan aqidah dan prinsipnya padahal sesungguhnya adalah mempertahankan dirinya dan kesombongannya. Rasulullah SAW bersabda;

" Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah yang keras dan besar permusuhannya. "
HR Bukhari dan Muslim

Orang yang banyak permusuhannya adalah yang suka mengutarakan perdebatan, perbalahan dan pendapat.

Tetapi debat dengan cara yang baik untuk menerangkan kebenaran kepada orang yang kurang faham, dan kepada ahli bid`ah, perkara itu tidak bermasalah. Tetapi, jika sudah melampaui batas, maka perkara itu tidak diperbolehkan. Bahkan jika perdebatan itu dilakukan untuk menunjukkan kehebatan diri, perkara itu malah menjadi bukti akan lemahnya iman dan sedikitnya pengetahuan.

Jadi, boleh juga dengan perdebatan ini, tali ukhuwah akan terurai dan hilang. Sebab masing-masing merasa lebih lebih kuat hujjahnya dibanding yang lain.

7. Berbisik-Bisik ( Pembicaraan Rahsia )

Berbisik-bisik adalah merupakan perkara yang remeh tetapi mempunyai pengaruh yang dalam bagi orang yang berfikiran ingin membina ikatan persaudaraan.

Allah SWT berfirman;
" Sesungguhnya perbuatan berbisik ( dengan kejahatan ) itu adalah dari ( hasutan ) Syaitan, untuk menjadikan orang-orang yang beriman berdukacita; sedang bisikan itu tidak akan dapat membahayakan mereka sedikitpun melainkan dengan izin Allah; dan kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman berserah diri. "
Q.S Al-Mujaadalah : 10

Rasulullah bersabda;
" Jika kalian bertiga, maka janganlah dua orang di antaranya berbisik-bisik tanpa mengajak orang yang ketiga kerana itu akan dapat menyebabkannya bersedih. "
HR Bukhari dan Muslim

Para ulama berkata, " Syaitan akan membisikkan kepadanya dan berkata, ' Mereka itu membicarakanmu'." Maka dari itu para ulama mensyaratkan agar meminta izin terlebih dahulu jika ingin berbisik-bisik ( berbicara rahsia ).

kredit: rakangroup

Salam Ukhuwah..~

Ahad, 12 Januari 2014

Kesah Empat Isteri



Suatu ketika, ada seorang pedagang kaya yang mempunyai empat orang isteri.Dia mencintai isteri yang keempat dan memberikan harta dan kesenangan yang banyak. Sebab, isteri keempat adalah yang tercantik di antara kesemua isterinya.Maka, tidak hairan lelaki ini sering memberikan yang terbaik untuk isteri keempatnya itu.

Pedagang itu juga mencintai isterinya yang ketiga. Dia sangat bangga dengan isterinya ini, dan sering berusaha untuk memperkenalkan isteri ketiganya ini kepada semua temannya. Namun dia juga selalu bimbang kalau-kalau isterinya ini akan lari dengan lelaki yang lain.

Begitu juga dengan isterinya yang kedua. Dia juga sangat menyukainya. Dia adalah seorang isteri yang sabar dan penuh pengertian. Bila-bila masa pun apabila pedagang ini mendapat masalah, dia selalu meminta pandangan isterinya yang kedua ini. dialah tempat bergantung. Dia selalu menolong dan mendampingi suaminya melalui mas! a-masa yang sulit.

Sama halnya dengan isterinya yang pertama. Dia adalah pasangan yang sangat setia. Dia sering membawa kebaikan bagi kehidupan keluarga ini. Dialah yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan usaha si suami. Akan tetapi si pedangang tidak begitu mencintainya. Walaupun isteri pertamanya ini begitu sayang kepadanya namun, pedagang ini tidak begitu memperdulikannya.

Suatu ketika, si pedagang sakit. Kemudian dia menyedari mungkin masa untuknya hidup tinggal tidak lama lagi. Dia mula merenungi semua kehidupanindahnya, dan berkata dalam hati, "Saat ini, aku punya empat orang isteri. Namun, apabila aku meninggal, aku akan sendiri. Betapa menyedihkan jika aku harus hidup sendiri."

Lalu dia meminta semua isterinya datang dan kemudian mulai bertanya pada isteri keempatnya, "Kaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan yang indah. Nah sekarang, aku akan mati, mahukah kau mendampingiku dan menemaniku?" Isteri keempatnya terdiam. "Tentu ! saja tidak!" jawab isterinya yang keempat, dan pergi begitu sahaja tanpa berkata-kata lagi. Jawapan itu sangat menyakitkan hati seakan-akan ada pisau yang terhunus dan menghiris-hiris hatinya.

Pedagang yang sedih itu lalu bertanya kepada isteri ketiganya, "Aku pun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini, hidupku akan berakhir. Mahukah kau ikut denganku, dan menemani akhir hayatku?". Isteri ketiganya menjawab, "Hidup begitu indah di sini. Aku akan menikah lagi jika kau mati". Pedagang begitu terpukul dengan jawapan isteri ketiganya itu.

Lalu, dia bertanya kepada isteri keduanya, "Aku selalu berpaling padamu setiap kali mendapat masalah. Dan kau selalu mahu membantuku. Kini, aku perlu sekali pertolonganmu. Kalau aku mati, mahukah kau ikut dan mendampingiku?" Si isteri kedua menjawab perlahan, "Maafkan aku...aku tak mampu menolongmu kali ini. Aku hanya boleh menghantarmu ke liang kubur saja. Nanti, akan kubuatkan makam yang indah buatmu."

Jawapan itu seperti kil! at yang menyambar. Si pedagang kini berasa Putus asa. Tiba-tiba terdengar satu suara, "Aku akan tinggal denganmu. Aku akan ikut ke manapun kau pergi. Aku, tak akan meninggalkanmu, aku akan setia bersamamu." Si pedagang lalu menoleh ke arah suara itu dan mendapati isteri pertamanya yang berkata begitu. Isteri pertamanya tampak begitu kurus. Badannya seperti orang yang kelaparan. Berasa menyesal, si pedagang Lalu berguman, "Kalau saja aku mampu melayanmu lebih baik pada saat aku mampu, tak akan kubiarkan kau seperti ini isteriku."

Teman, sesungguhnya kita punya empat orang isteri dalam hidup ini;

ISTERI KEEMPAT adalah tubuh kita. Seberapa banyak waktu dan belanja yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah, semuanya akan hilang. Ia akan pergi segera apabila kita meninggal. Tak ada keindahan dan kegagahan yang tersisa saat kita menghadapNYA.

ISTERI KETIGA adalah status sosial dan kekayaan kita. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya.

ISTERI KEDUA pula adalah kerabat dan teman-teman. Seberapa pun dekat hubungan kita dengan mereka, mereka tak akan mampu bersama kita selamanya. Hanya sampai kuburlah mereka akan menemani kita.

DAN SESUNGGUHNYA ISTERI PERTAMA adalah jiwa dan amal kita. Mungkin kita sering mengabaikan dan melupakannya demi kekayaan dan kesenangan peribadi. Namun, sebenarnya, hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk Terus setia dan mendampingi kemanapun kita melangkah. 

Hanya amal yang mampu menolong kita diakhirat kelak. Jadi, selagi mampu, perlakukanlah jiwa dan amal kita dengan bijak. Jangan sampai kita menyesal kemudian hari.

kredit : rakangroup


Salam Ukhuwah..~

Sabtu, 11 Januari 2014

Mendidik Hati



MENDIDIK hati adalah pendidikan diri yang paling penting dalam kehidupan setiap manusia. Kalangan orang tua-tua dahulu selalu menasihatkan generasi sesudahnya agar didik hati supaya sentiasa istiqamah dan berbudi bahasa. Pendidikan hati dengan keimanan dan ketakwaan akan menjurus kepada kesederhanaan dan keinsafan.


Hati yang baik akan menjauhi segala dosa terutama yang melibatkan perkataan dan perbuatan. Justeru, kalangan remaja masa kini sewajarnya mendidik hati supaya segala tindak-tanduk kita sentiasa terpelihara dan tidak dimurkai Allah SWT.


Nabi SAW bersabda : “Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Barang siapa memperbaiki apa yang dirahsiakan, maka Allah akan merahsiakannya, maka Allah akan memperbaiki apa yang dilahirkannya (terang-terangan).” (riwayat Al Hakim)


Justeru, taubat, istighfar, zikrullah, tilawatil Quran, solat fardu dan nawafil serta amal soleh yang lain merupakan kunci yang terbaik ke arah mendidik dan membentuk hati, perasaan dan jiwa ke arah menjadi Mukmin yang mendapat hidayah, keampunan dan rahmat Allah SWT.


Hati dikatakan tempat bertapaknya segala hasad dengki, sombong, bakhil, riak, munafik (nifak), bangga diri (ujub), putus asa, cintakan dunia, perasaan dukacita, mengikut hawa nafsu, buruk sangka, enggan bertaubat daripada dosa, benci sesama Muslim, kufur terhadap Allah, tidak menyedari kejahilan diri, malas melaksanakan ibadah, ragu-ragu terhadap kebenaran ajaran Islam bermula. Semua sifat ini bermula daripada hati. Kemudian memantulkan kepada percakapan dan perbuatan. Islam melarang keras semua perasaan ini wujud di hati kita kerana ia merupakan dosa hati yang boleh membinasakan diri dan dibenci oleh Allah SWT dan rasul-Nya.


Allah berfirman yang bermaksud : “Adakah patut mereka dengki kepada manusia atau nikmat yang Allah berikan kepada mereka daripada kurnia-Nya.” (An-Nisa: 54)


Menurut Imam al-Ghazali tujuh perkara yang tercela yang boleh merosakkan diri sendiri. Antaranya; suka kepada permusuhan, merasakan kemuliaan diri, takbur, mengagumi diri sendiri, takut hilang cita-cita yang diinginkan, suka menjadi ketua dan jiwanya jahat dan kikir.


Oleh itu, amalan berbudi bahasa dalam masyarakat perlu ditekankan kembali melalui didikan hati di rumah dan di sekolah. Melalui pendidikan hati akan menjadikan budi bahasa lebih terpuji dan berfikir sebelum sesuatu perbuatan yang dilakukan.


Lantaran itu, Nabi SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT tidak memandang segak tubuhmu dan tidak pula pada kedudukan mahupun harta kekayaanmu, tetapi Allah memandang pada hatimu. Barang siapa memiliki hati yang soleh Allah menyukainya. Bani Adam yang paling dicintai Allah ialah yang paling bertakwa.” (Riwayat Ath-Thabrani dan Muslim)


Ini akan menjadikan kehidupan dalam masyarakat lebih tenteram dan tidak akan berlaku perbuatan yang menjurus kepada kesombongan, hasad dengki, riak, cintakan dunia dan bangga terhadap kelulusan, rupa paras serta kedudukan.

kredit: dr aminudin mansor



Salam Ukhuwah..~

Jumaat, 10 Januari 2014

Hati Tempat Terjatuh Pandangan Tuhan

Gambar sekedar hiasan sahaja.

Di zaman Nabi Musa a.s. ada seorang hamba Allah yang kerjanya mencuri. Sudah 40 tahun dia mencuri. Suatu hari, dia terlihat Nabi Musa a.s. sedang berjalan. Terlintas di hatinya untuk berjalan bersama Nabi Musa a.s. Katanya’ “ Kalau aku dapat berjalan bersama Nabi Musa, mudah-mudahan ada juga berkatnya untuk aku.”

Tetapi setelah difikirkannya semula, dia tidak jadi melangsungkan niatnya itu. Dia berkata, “Aku ini pencuri. Manalah layak pencuri macam aku ini berjalan bersama seorang nabi.” Sejurus kemudian, dia terlihat pula seorang abid berlari-lari anak mengejar Nabi Musa a.s. dari belakang. Si abid ini telah beribadah secara istiqamah selama 40 tahun dan dikenali orang. Si pencuri itu berkata di dalam hatinya, “Baik aku berjalan bersama di abid ini. Moga-moga ada juga baiknya untuk aku.”

Lantas si pencuri menghampiri si abid dan meminta kebenaran untuk berjalan bersamanya. Apabila ternampak sahaja si pencuri, si abid terkejut dan terus merasa takut. Dia berkata di dalam hatinya, “Celaka aku! Kalau si pencuri ini berjalan bersama aku, takut-takut nanti rosak segala kebaikan dan amalanku.”

Si abid terus berlari laju supaya si pencuri tidak dapat ikut. Si pencuri tadi terus mengikut si abid kerana hendak berjalan bersamanya. Akhirnya kedua-dua mereka sampai serentak kepada Nabi Musa a.s.

Nabi Musa a.s. terus berpaling dan bersabda kepada mereka berdua, “ Aku baru sahaja mendapat wahyu dari Allah Taala supaya memberitahu kamu berdua bahawa segala amalan kamu telah dimansuhkan oleh Allah.” Maka terkejutlah si abid dan si pencuri tadi. Berbahagialah si pencuri kerana segala dosanya mencuri selama 40 tahun telah diampunkan oleh Allah. Celaka dan dukacitalah si abid kerana segala amalan dan ibadahnya selama 40 tahun telah ditolak dan tidak diterima oleh Allah.

Rupa-rupanya si pencuri itu, walaupun kerjanya mencuri, dia tidak suka akan perbuatannya itu. Dia miskin dan tanggungannya banyak. Masyarakat ketika itu sudah rosak dan orang kaya enggan membantu fakir miskin. Dia mencuri kerana terpaksa. Oleh itu, setiap kali dia mencuri, dia amat merasa bersalah dan berdosa. Jiwanya terseksa dan menderita. Selama 40 tahun dia menanggung rasa berdosa itu dan selama itu juga jiwanya parah menanggung derita. Selama 40 tahun hatinya merintih meminta belas kasihan, keampunan dan mengharapkan kasih sayang Tuhan.

Si abid pula, amat yakin ibadahnya mampu menyelamatkannya. Dia yakin ibadahnya akan dapat membeli Syurga. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah baik. Setiap kali dia beribadah, dia rasa dirinya bertambah mulia. Selama 40 tahun si abid ini mendidik hatinya supaya merasa lebih baik dan lebih mulia setiap kali dia membuat ibadah. Hingga dia rasa tidak layak bergaul, inikan pula berjalan bersama orang yang hina dan berdosa. Dia rasa dia hanya layak berjalan bersama para Nabi.

Maha Suci Allah yang mengetahui segala isi hati manusia. Yang tidak melihat akan amalan-amalan lahir tetapi apa yang ada di dalam hati. Yang menilai hamba-Nya mengikut apa yang termampu oleh hamba-Nya dan tidak lebih dari itu. Yang menguji manusia dengan kesusahan dan nikmat untuk mengetahui siapa di kalangan hamba-hamba-Nya yang benar-benar berjiwa hamba dan merasa bahawa Allah itu Tuhannya.

kredit: rakangroup


Salam Ukhuwah..~

Rabu, 8 Januari 2014

Sombong



Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor kebendaan. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain. Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor KECERDASAN. Kita merasa lebih pintar, lebih cendiakawan, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain. Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor KEBAIKAN. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.

Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mengesannya. Sombong karena kebendaan sangat mudah terlihat, namun sombong karena
pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit dikesan karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.

Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri dan kepercayaan diri. Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan, Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.

Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu EGO di satu kutub dan KESADARAN sejati di lain kutub. Pada saat dilahirkan ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak
punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita perlukan dalam hidup. Keenam indra kita
selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi. Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan
kita kepada dua isme ketamakan dan kebencian. Inilah akar dari segala permasalahan. Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju KESADARAN sejati.

Untuk melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah MAKHLUK FISIK, tetapi MAKHLUK SPIRITUAL. Kesejatian kita adalah spiritual, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong. Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabu oleh penampilan, label, dan segala "tampak luaran" lainnya. Yang kini kita lihat adalah "tampak dalaman". Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego. Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri. Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi kita sendiri.

Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang
lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi,
setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?

kredit: rakangroup


Salam Ukhuwah..~

Selasa, 7 Januari 2014

5 Tanda Hati Keras Membatu



Hati adalah sumber ilham dan pertimbangan, tempat lahirnya cinta dan benci, keimanan dan kekufuran, taubat dan sikap degil, ketenangan dan kebimbangan. Hati juga sumber kebahagiaan jika kita mampu membersihkannya namun sebaliknya ia merupakan sumber bencana jika kita gemar menodainya. Aktiviti yang dilakukan sering berpunca daripada lurus atau bengkoknya hati. Abu Hurairah r.a. berkata, "Hati adalah raja, sedangkan anggota badan adalah tentera. Jika raja itu baik, maka akan baik pula lah tenteranya.. Jika raja itu buruk, maka akan buruk pula tenteranya".

Hati yang keras mempunyai tanda-tanda yang boleh dikenali, di antara yang terpenting adalah seperti berikut:

1. Malas melakukan ketaatan dan amal kebajikan

Terutama malas untuk melaksanakan ibadah, malah mungkin memandang ringan. Misalnya tidak serius dalam menunaikan solat, atau berasa berat dan enggan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah. Allah telah menyifatkan kaum munafikin dalam firman-Nya yang bermaksud, "Dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan." (Surah At-Taubah, ayat 54)

2. Tidak berasa gerun dengan ayat al-Quran

Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, hatinya tidak terpengaruh sama sekali, tidak mahu khusyuk atau tunduk, dan juga lalai daripada membaca al-Quran serta mendengarkannya. Bahkan enggan dan berpaling daripadanya. Sedangkan Allah S.W.T memberi ingatan yang ertinya, "Maka beri peringatanlah dengan al-Quran orang yang takut dengan ancaman Ku." (Surah Al-Qaf, ayat 45)

3. Berlebihan mencintai dunia dan melupakan akhirat

Himmah dan segala keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata-ma ta. Segala sesuatu ditimbang dari segi keperluan dunia. Cinta, benci dan hubungan sesama manusia hanya untuk urusan dunia sahaja. Penghujungnya jadilah dia seorang yang dengki, ego dan individulistik, bakhil serta tamak terhadap dunia.

4. Kurang mengagungkan Allah

Sehingga hilang rasa cemburu dalam hati, kekuatan iman menjadi lemah, tidak marah ketika larangan Allah dilecehkan orang. Tidak mengamal yang makruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa.

5. Tidak belajar dengan Ayat Kauniah

Tidak terpengaruh dengan peristiwa-peristiwa yang dapat memberi pengajaran, seperti kematian, sakit, bencana dan seumpamanya. Dia memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai perkara biasa, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat. "Dan tidaklah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahawa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pel ajaran?" (Surah At-Taubah, ayat 126)

kredit: Din


Salam Ukhuwah..~

Isnin, 6 Januari 2014

Adab Melepaskan Hajat



Seseorang yang ingin melepaskan hajatnya, hendaklah memilih tempat yang jauh dari pandangan orang ramai, seperti di tempat yang lapang.

Hendaklah ia menutup (berlindung) dengan sesuatu benda kiranya boleh didapat. Dan jangan ia tergesa-gesa memuka auratnya, sebelum sampai ke tempat duduk untuk melepaskan hajat itu. Janganlah hendaknya ia menghadap kiblat atau membelakanginya ketika itu. Juga janganlah hendaknya ia melepaskan hajatnya ditempat-tempat biasanya orang ramai berkumpul kerana berbual-bual atau duduk-duduk berehat. Janganlah ia membuang air kecil pada air yang bertakung (tidak mengalir), atau di bawah pokok yang berbuah atau di lubang. Juga jangan di tempat yang keras, atau di tempat tiupan angin agar terpelihara dari percikan air kencing itu, dan hendaklah ia mengiring (dengan punggungnya bertenggong) kepada kaki kirinya.

Apabila ia ingin membuang air kecil di dalam bangunan (tandas), maka hendaklah ia mendahulukan kaki kiri ketika memasukinya dan kaki kanan ketika keluar. Jangan pula ia membawa bersamanya ketika itu sesuatu yang tertulis padanya Allah Ta’ala atau nama RasulNya s.a.w.

Ketika masuk ia membaca:

“Dengan nama Allah saya berlindung denganNya dari gangguan syaitan, lelaki dan perempuan.”

Ketika keluar ia membaca:

“Segala kepujian bagi Allah yang telah menghapuskan dariku apa-apa yang boleh membahayakan aku, dan mengekalkan bagiku apa-apa yang boleh memberi manfaat kepadaku.”

Sesudah selesai buang air sebaik-baiknya ia beristibra’ (mengetus) tiga kali, dan janganlah ia memikirkan terlalu banyak beristibra’ itu, agar ia tiada berwaswas sehingga perkara ini merumitkannya. Jika ia merasakan ada sedikit basah, hendaklah ia menganggap itu sisa dari air. Ketahuilah bahawa orang yang paling ringan istibranya dikira paling pandai dalam ilmu fiqhnya, sebab waswas itu menunjukkan ilmu fiqhnya cetek.

Antara perkara yang diringankan lagi, membolehkan seseorang itu membuang air kecil berdekatan dengan rakannya, tetapi mestilah ada tutup antaranya. Yang demikian itu pernah dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. sendiri padahal baginda amat pemalu orang nya, tetapi itu adalah untuk mengajar orang ramai tentang kebolehan melakukannya.

Cara beristinja’

Sesudah membuang air atau melepaskan hajat itu dia pun beristinja’ dengan tiga butir batu. Selain batu boleh boleh juga digunakan segala benda yang kasar tetapi suci.

Selanjutnya dia beristinja’ pula dengan air; iaitu dengan menyiram air dengan tangan kanan di tempat keluarnya najis itu, sedang tangan kirinya mengosok tempat itu sehingga tiada lagi yang tinggal dari bekas najis di situ. Ini dapat dirasakan oleh tapak tangan kiri yang menggosok tempat keluarnya najis tadi.

Hendaklah ia tiada melampau pada mengorek atau meraba bahagian di dalam (dubur), kerana yang demikian itu akan menimbulkan waswas pada diri. Ketahuilah mana tempat yang tiada boleh sampai kepadanya air itu dikira bahagian dalam, sedangkan hukum najis itu tidak terlibat pada kotoran-kotoran di segala bahagian dalam, selama ianya tiada terlihat atau dihukumkan pada hukum lahir.

Dan hukum najis itu hanya terkena pada bahagian-bahagian yang lahir saja, dan batasan pensuciannya ialah dengan menyampaikan air kepadanya dan menghilangkan najis itu dari situ. Dengan itu maka tidak perlu untuk ditimbulkan waswas lagi.

kredit: Bimbingan Mukmin


Salam Ukhuwah..~

Sabtu, 4 Januari 2014

Bakti Anak Kepada Ibubapa Yang Sudah Meninggal



Seseorang anak wajib mentaati dan berbakti kepada kedua-dua ibu bapanya, tetapi adakah ia memadai atau terbatas ketika mereka masih hidup sahaja? Di dalam al-Quran terdapat banyak ayat yang menyentuh atau memerintahkan agar seseorang anak berbakti atau membuat kebajikan terhadap kedua-dua ibu bapanya, dan ia tidak terbatas ketika mereka masih hidup. Terdapat beberapa amalan kebajikan yang boleh disumbangkan oleh seseorang anak kepada kedua-dua ibu bapanya setelah meninggal dunia.


1. Menjelaskan hutang.

Islam amat menitikberatkan persoalan memberi, menerima dan membayar semula hutang kerana ia melibatkan hubungan sesama manusia ketika hidup di dunia hingga ke akhirat kelak. Seseorang yang berhutang wajib menjelaskan segala hutangnya, dan sekiranya ia meninggal dunia sebelum sempat menyelesaikan hutangnya maka tanggungjawab untuk membayar hutang tersebut adalah ke atas warisnya. Semua hutang sama ada melibatkan orang perseorangan, pihak bank dan sebagainya hendaklah dibayar tanpa mengira jumlahnya yang sedikit ataupun banyak.


Sabda Rasulullah s.a.w. yang bermaksud: Semua dosa orang yang mati syahid diampuni kecuali hutangnya. (Riwayat Bukhari, Tirmizi, Nasai dan Ibnu Majah).

Abu Said r.a. berkata: Telah dibawa kepada Rasulullah s.a.w. jenazah untuk disembahyangkan, lalu baginda bertanya: Adakah mayat ini masih menanggung hutang? Sahabat menjawab: ``Ya, Rasulullah''. Baginda bertanya: Adakah ia ada meninggalkan harta kekayaan untuk membayarnya? Jawab sahabat: ``Tidak.'' Lalu baginda bersabda: Sembahyanglah kamu pada kawanmu itu. Baginda sendiri tidak turut serta menyembahyangkannya. Kemudian Ali bin Abi Talib berkata: ``Wahai Rasulullah, biarlah saya yang membayar hutangnya.'' Sesudah itu baginda segera maju untuk menyembahyangkan jenazah sambil berkata kepada Ali: Semoga Allah membebaskan tanggunganmu (dirimu) daripada api neraka, sebagaimana kamu telah membebaskan tanggungan saudaramu yang Muslim itu. Tidaklah seorang Muslim yang membayar hutang saudaranya melainkan Allah akan membebaskan tanggungannya (dirinya) daripada api neraka pada hari kiamat kelak.


Dalam hadis yang lain Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: Barangsiapa yang berhutang, kemudian ia berniat tidak akan membayar hutangnya, lalu ia mati, maka Allah akan bertanya pada hari kiamat: Apakah kamu mengira bahawa Aku tidak akan menuntut hak hamba-Ku? Maka diambil amal kebajikan orang itu dan diberikan kepada orang yang memberi hutang dan jika orang yang berhutang tidak mempunyai amal kebajikan, maka segala dosa orang yang memberi hutang itu, diberikan kepada orang yang berhutang.


2. Membayarkan zakat.

Seseorang yang meninggal dunia dan belum membayar zakat, maka wajib bagi warisnya menjelaskan zakat tersebut kerana zakat yang belum dibayar itu adalah hutang seseorang hamba kepada Allah s.w.t. Kewajipan membayarnya pula didahulukan sebelum menjelaskan hutang yang lain, memenuhi wasiat dan pembahagian harta pusaka.
Daripada Ibnu Abbas r.a. bahawa seorang lelaki telah datang kepada Rasulullah s.a.w. dan bertanya: ``Ibu saya telah meninggal dunia dan berhutang puasa selama satu bulan. Apakah saya perlu membayarkannya?'' 

Sabda Rasulullah s.a.w.: Sekiranya ibu kamu mempunyai hutang, adakah kamu akan membayarkannya? Jawab lelaki tersebut: ``Ya.'' Baginda menjawab: Hutang kepada Allah adalah lebih utama dibayar. (Riwayat Bukhari dan Muslim)


3. Mengqadakan puasa.

Waris atau anak-anak disunatkan supaya mengqada puasa ibu bapanya yang telah meninggal dunia, ia termasuk puasa Ramadan, puasa nazar dan puasa kafarah. Aisyah r.a. meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Barangsiapa yang mati sedangkan ia ada kewajipan berpuasa, maka walinya berpuasa untuknya. (Muttafaq Alaih) Daripada Ibnu Abbas r.a. katanya, bahawasanya seorang wanita berkata: Ya Rasulullah, ibu saya telah meninggal dunia sedangkan ia ada puasa nazar, adakah saya boleh berpuasa untuknya? Rasulullah s.a.w. bersabda: Bagaimana pendapatmu sekiranya ibu kamu mempunyai hutang dan kamu membayarkannya, tidakkah itu menunaikan hutangnya? Wanita itu menjawab: ``Ya.'' Maka Rasulullah s.a.w. bersabda: Berpuasalah untuk ibumu. (Riwayat Bukhari dan Muslim)


4. Membayarkan fidyah puasa.

Fidyah puasa itu ialah memberi sedekah dalam kadar satu cupak makanan asasi penduduk sesebuah negara sama ada daripada beras, gandum atau seumpamanya. Di Selangor kadar satu cupak itu ialah 900 gram bersamaan RM1.10. Mereka yang diwajibkan membayar fidyah puasa ialah:

l.Orang sakit yang tidak ada harapan akan sembuh penyakitnya.

2. Orang tua yang tidak upaya berpuasa atau menemui kesukaran untuk
berpuasa dengan sebab tuanya.

Bagi mereka yang tersebut di atas yang tidak berupaya untuk berpuasa, maka diwajibkan bagi mereka memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan puasa dengan kadar satu cupak atau nilai yang bersamaan dengannya.

Firman Allah s.w.t. Dan wajib ke atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin. (Al-Baqarah : 184)


5. Mendoakan ibu bapa.

Doa anak yang soleh merupakan khazanah ibu bapa yang amat berharga. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Apabila seorang anak Adam meninggal dunia, maka putuslah segala amalannya melainkan tiga perkara; sedekah jariah atau ilmu yang bermanfaat atau anak yang soleh dan berdoa untuknya.


6. Menghubungkan tali silaturahim.

Menghubungkan tali silaturahim adalah termasuk dalam perkara yang amat penting dan ia merupakan salah satu tuntutan syariat yang harus mendapat perhatian utama daripada kaum Muslimin. Mengeratkan hubungan silaturahim dan berbuat baik dengan kaum kerabat dan sahabat ibu bapa adalah sebahagian daripada cara berbuat amal untuk kedua-duanya yang telah meninggal dunia.

Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan, Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik kebajikan adalah seseorang itu menghubungkan silaturahim dengan orang yang dikasihi bapanya. (Riwayat Muslim) Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Malik bin Rabi`ah as-Sa`idi, kami sedang duduk bersama Rasulullah s.a.w., datanglah seorang lelaki daripada Bani Salamah, ia bertanya kepada Rasulullah, ``Ya Rasulullah, masih adakah kebaikan (kewajipan) yang harus saya lakukan untuk berbakti kepada kedua-dua ibu bapaku setelah kedua-duanya meninggal dunia.'' Baginda menjawab: Ya ada, iaitu sembahyang atas(jenazah) kedua-duanya (maksudnya mendoakan kedua-duanya) dan memohon keampunan bagi kedua-duanya, memenuhi segala pesanannya (menyempurnakan janji mereka) setelah mereka meninggal dunia dan menghubungkan ikatan silaturahim yang tidak sampai serta menghormati para sahabat mereka. (Riwayat Abu Daud, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)


7. Menziarahi kubur.

Menziarahi kubur ibu bapa adalah sunat muakad dan besar ganjaran pahalanya. Adalah lebih baik jika di-ziarahi pada setiap hari Jumaat dan dibacakan surah Yasin untuknya. Kelebihan mengenang ibu bapa dengan berdoa dan menziarahi kuburnya membawa kebajikan yang bukan sahaja kepada anak- anak yang soleh tetapi juga kepada anak yang derhaka. Dalam sebuah hadis diterangkan: Anak derhaka yang kematian kedua-dua ibu bapanya kemudian ia (menyesal dan bertaubat) dan sentiasa berdoa untuk kedua-duanya, nescaya ia diampuni Allah dan dianggap sebagai anak yang taat.


8. Menyelesaikan harta pusaka mengikut faraid.

Pembahagian harta pusaka hendaklah dibuat setelah dijelaskan segala hutang si mati sama ada hutang dengan Allah mahupun sesama manusia, wasiat dan segala perbelanjaan pengurusan jenazah.

Firman Allah s.w.t. Allah telah memerintahkan pembahagian harta pusaka terhadap anak-anak kamu iaitu bahagian seorang lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan. (An-Nisa :11) 9. Memohon keampunan bagi dosanya. Perkara yang paling mudah dan dapat dikerjakan oleh semua orang pada bila-bila masa ialah berdoa serta memohon keampunan bagi dosa kedua-dua ibu bapanya sama ada yang masih hidup lebih-lebih lagi yang telah meninggal dunia, seperti mana doa yang dianjurkan di dalam al-Quran Wahai Tuhan kami, berilah keampunan kepadaku dan kepada kedua-dua ibu bapaku dan juga kepada semua orang mukmin pada hari terjadinya hisab. (Ibrahim : 41)

Firman Allah s.w.t. Dan hendaklah engkau merendah diri kepada kedua- duanya
kerana belas kasihan dan kasih sayangmu dan doakanlah (untuk mereka), ``Wahai Tuhanku, cucurilah rahmat kepada mereka berdua sebagaimana mereka telah mencurahkan kasih sayangnya dengan memelihara dan mendidikku semasa kecil. (Al-Isra: 24)


10. Membuatkan haji untuknya.

Anak-anak digalakkan untuk membuatkan haji bagi kedua-dua ibu bapanya yang telah meninggal dunia yang belum sempat menunaikan haji. Ia boleh dilakukan dengan membuat sendiri (bagi yang telah menunaikan haji untuk diri sendiri) atau dengan cara mengupahkannya kepada orang lain. Walau bagaimanapun sekiranya kedua-dua ibu bapa telah bernazar untuk menunaikan haji tetapi tidak berkesempatan kerana telah meninggal dunia, maka wajib bagi waris atau anak melakukan haji untuknya dengan segala perbelanjaan adalah daripada harta peninggalan si mati.

Diterima daripada Ibnu Abbas r.a. bahawa seorang wanita dari Juhainah datang kepada Rasulullah s.a.w. lalu bertanya: ``Ibuku telah bernazar untuk menunaikan haji tetapi ia meninggal dunia sebelum menunaikannya. Apakah saya akan melakukan di atas namanya?'' Jawab Baginda: Ya, berhajilah menggantikannya. Bagaimana pendapat kamu, jika berhutang apakah kamu akan membayarkannya? Oleh itu, bayarlah hutang kepada Allah kerana hutang kepada Allah adalah lebih utama dibayar.

Sebagai kesimpulannya, marilah sama-sama kita menghayati semula peranan seorang anak kepada ibu bapa. Tanpa mereka siapalah kita dan adakah kita boleh berada dalam keadaan dan kedudukan yang kita miliki pada hari ini? Sedarlah bahawa tanpa keredhaan mereka, kita juga tidak akan mendapat keredhaan Allah s.w.t. Semoga kita akan tergolong dalam golongan yang diredhai Allah. –

kredit: NURHELMI IKHSAN, Penolong Pegawai Hal Ehwal Islam, Jabatan Mufti Selangor.



Salam Ukhuwah..~

Jumaat, 3 Januari 2014

5 Perusak Hati




Hati adalah pengendali. Jika ia baik, baik pula perbuatannya. Jika ia rusak, rusak pula perbuatannya. Maka menjaga hati dari kerusakan adalah niscaya dan wajib. Tentang perusak hati, Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan ada lima perkara, 'bergaul dengan banyak kalangan (baik dan buruk), angan-angan kosong, bergantung kepada selain Allah, kekenyangan dan banyak tidur.'

1. Bergaul dengan banyak kalangan
Pergaulan adalah perlu, tapi tidak asal bergaul dan banyak teman. Pergaulan yang salah akan menimbulkan masalah. Teman-teman yang buruk lambat laun akan menghitamkan hati, melemahkan dan menghilangkan rasa nurani, akan membuat yang bersangkutan larut dalam memenuhi berbagai keinginan mereka yang negatif.

Dalam tataran riel, kita sering menyaksikan orang yang hancur hidup dan kehidupannya gara-gara pergaulan. Biasanya out put semacam ini, karena motivasi bergaulnya untuk dunia. Dan memang, kehancuran manusia lebih banyak disebabkan oleh sesama manusia. Karena itu, kelak di akhirat, banyak yang menyesal berat karena salah pergaulan. Allah berfirman:

"Dan (ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zhalim menggigit dua tangannya seraya berkata, 'Aduhai (dulu) kiranya aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al-Qur'an ketika Al-Qur'an itu telah datang kepadaku." (Al-Furqan: 27-29).

"Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa." (Az-Zukhruf: 67).
"Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di antara kamu dalam kehidupan dunia ini, kemudian di hari Kiamat sebagian kamu mengingkari sebagian (yang lain) dan sebagian kamu melaknati sebagian (yang lain), dan tempat kembalimu adalah Neraka, dan sekali-kali tidak ada bagimu para penolong." (Al-Ankabut: 25).

Inilah pergaulan yang didasari oleh kesamaan tujuan duniawi. Mereka saling mencintai dan saling membantu jika ada hasil duniawi yang diingini. Jika telah lenyap kepentingan tersebut, maka pertemanan itu akan melahirkan duka dan penyesalan, cinta berubah menjadi saling membenci dan melaknat. 


Karena itu, dalam bergaul, berteman dan berkumpul hendaknya ukuran yang dipakai adalah kebaikan. Lebih tinggi lagi tingkatannya jika motivasi pertemanan itu untuk mendapatkan kecintaan dan ridha Allah.

2. Larut dalam angan-angan kosong
Angan-angan kosong adalah lautan tak bertepi. Ia adalah lautan tempat berlayarnya orang-orang bangkrut. Bahkan dikatakan, angan-angan adalah modal orang-orang bangkrut. Ombak angan-angan terus mengombang-ambingkannya, khayalan-khayalan dusta senantiasa mempermainkannya. Laksana anjing yang sedang mempermainkan bangkai. Angan-angan kosong adalah kebiasaan orang yang berjiwa kerdil dan rendah.

Masing-masing sesuai dengan yang diangankannya. Ada yang mengangankan menjadi raja atau ratu, ada yang ingin keliling dunia, ada yang ingin mendapatkan harta kekayaan melimpah, atau isteri yang cantik jelita. Tapi itu hanya angan-angan belaka.

Adapun orang yang memiliki cita-cita tinggi dan mulia, maka cita-citanya adalah seputar ilmu, iman dan amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Dan ini adalah cita-cita terpuji. Adapun angan-angan kosong ia adalah tipu daya belaka. Nabi s..a.w. memuji orang yang bercita-cita terhadap kebaikan.

3. Bergantung kepada selain Allah
Ini adalah faktor terbesar perusak hati. Tidak ada sesuatu yang lebih berbahaya dari bertawakkal dan bergantung kepada selain Allah.

Jika seseorang bertawakkal kepada selain Allah maka Allah akan menyerahkan urusan orang tersebut kepada sesuatu yang ia bergantung kepadanya. Allah akan menghinakannya dan menjadikan perbuatannya sia-sia. Ia tidak akan mendapatkan sesuatu pun dari Allah, juga tidak dari makhluk yang ia bergantung kepadanya. Allah berfirman, artinya:

"Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyembahan (pengikut-pengikutnya) terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka." (Maryam: 81-82)

"Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapat pertolongan. Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka." (Yasin: 74-75)

Maka orang yang paling hina adalah yang bergantung kepada selain Allah. Ia seperti orang yang berteduh dari panas dan hujan di bawah rumah laba-laba. Dan rumah laba-laba adalah rumah yang paling lemah dan rapuh.

Lebih dari itu, secara umum, asal dan pangkal syirik adalah dibangun di atas ketergantungan kepada selain Allah. Orang yang melakukannya adalah orang hina dan nista. Allah berfirman, artinya: "Janganlah kamu adakan tuhan lain selain Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah)." (Al-Isra': 22)

Terkadang keadaan sebagian manusia tertindas tapi terpuji, seperti mereka yang dipaksa dengan kebatilan. Sebagian lagi terkadang tercela tapi menang, seperti mereka yang berkuasa secara batil. Sebagian lagi terpuji dan menang, seperti mereka yang berkuasa dan berada dalam kebenaran. Adapun orang yang bergantung kepada selain Allah (musyrik) maka dia mendapatkan keadaan yang paling buruk dari empat keadaan manusia, yakni tidak terpuji dan tidak ada yang menolong.

4. Makanan
Makanan perusak ada dua macam.

Pertama , merusak karena dzat/materinya, dan ia terbagi menjadi dua macam. Yang diharamkan karena hak Allah, seperti bangkai, darah, anjing, binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam. Kedua, yang diharamkan karena hak hamba, seperti barang curian, rampasan dan sesuatu yang diambil tanpa kerelaan pemiliknya, baik karena paksaan, malu atau takut terhina.

Kedua , merusak karena melampaui ukuran dan takarannya. Seperti berlebihan dalam hal yang halal, kekenyangan kelewat batas. Sebab yang demikian itu membuatnya malas mengerjakan ketaatan, sibuk terus-menerus dengan urusan perut untuk memenuhi hawa nafsunya. Jika telah kekenyangan, maka ia merasa berat dan karenanya ia mudah mengikuti komando setan. Setan masuk ke dalam diri manusia melalui aliran darah. Puasa mempersempit aliran darah dan menyumbat jalannya setan. Sedangkan kekenyangan memperluas aliran darah dan membuat setan betah tinggal berlama-lama. Barangsiapa banyak makan dan minum, niscaya akan banyak tidur dan banyak merugi. Dalam sebuah hadits masyhur disebutkan:

"Tidaklah seorang anak Adam memenuhi bejana yang lebih buruk dari memenuhi perutnya (dengan makanan dan minuman). Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap (makanan) yang bisa menegakkan tulang rusuknya. Jika harus dilakukan, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga lagi untuk nafasnya." (HR. At-Tirmidzi, Ahmad dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albani).

5. Kebanyakan tidur
Banyak tidur mematikan hati, memenatkan badan, menghabiskan waktu dan membuat lupa serta malas. Di antara tidur itu ada yang sangat dibenci, ada yang berbahaya dan sama sekali tidak bermanfaat. Sedangkan tidur yang paling bermanfaat adalah tidur saat sangat dibutuhkan.

Segera tidur pada malam hari lebih baik dari tidur ketika sudah larut malam. Tidur pada tengah hari (tidur siang) lebih baik daripada tidur di pagi atau sore hari. Bahkan tidur pada sore dan pagi hari lebih banyak madharatnya daripada manfaatnya.

Di antara tidur yang dibenci adalah tidur antara shalat Shubuh dengan terbitnya matahari. Sebab ia adalah waktu yang sangat strategis. Karena itu, meskipun para ahli ibadah telah melewatkan sepanjang malamnya untuk ibadah, mereka tidak mau tidur pada waktu tersebut hingga matahari terbit. Sebab waktu itu adalah awal dan pintu siang, saat diturunkan dan dibagi-bagikannya rizki, saat diberikannya barakah. Maka masa itu adalah masa yang strategis dan sangat menentukan masa-masa setelahnya. Karenanya, tidur pada waktu itu hendaknya karena benar-benar sangat terpaksa.

Secara umum, saat tidur yang paling tepat dan bermanfaat adalah pada pertengahan pertama dari malam, serta pada seperenam bagian akhir malam, atau sekitar delapan jam. Dan itulah tidur yang baik menurut pada dokter. Jika lebih atau kurang daripadanya maka akan berpengaruh pada kebiasaan baiknya. Termasuk tidur yang tidak bermanfaat adalah tidur pada awal malam hari, setelah tenggelamnya matahari. Dan ia termasuk tidur yang dibenci Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam .

kredit: Mufsidaatul Qalbi Al-Khamsah, min kalami Ibni Qayyim Al-Jauziyyah/Abu Okasha Ainul Haris


Salam Ukhuwah..
~

Khamis, 2 Januari 2014

Hamba Yang Banyak Celanya

Gambar sebagai hiasan sahaja.

Sekali peristiwa ketika saya pergi untuk membeli-belah di pasar, saya melalui pasar hamba, dan saya terlihat di sana ada seorang saudagar yang sedang menawarkan seorang hamba, yang usianya masih keeil lagi, katanya berulang kali:

'Siapakah ingin membeli hamba yang banyak celanya ini?' Kemudian diulangi lagi kata-kata itu berkali-kali. Sudah tentulah tidak ada orang yang mahu membelinya. Saya lalu menghampiri saudagar itu seraya bertanya kepadanya: 'Apakah cela hamba ini?'

Saudagar itu tidak menjawab, tetapi disuruhnya saya sendiri menanyakan hamba itu tentang keaibannya. Maka saya merenung wajah hamba itu, lalu bertanya kepadanya pula:

'Apa cela yang ada padamu itu?'

'Cela hamba sangat banyak,' jawab hamba itu. 'Akan tetapi saya sendiri tidak mengerti cela yang mana satu yang dimaksudkan oleh tuan pemilikku, sehingga dia memberiku gelaran sebagai hamba yang paling banyak celanya.

Saya berpaling semula kepada pemilik hamba itu dan bertanya sekali lagi: 'Cela yang mana satu yang tuan maksudkan?'

'Mmm, hamba ini mengidap penyakit gila,' jawab saudagar itu. 'Penyakit gila?' Saya merenung wajah saudagar itu. Dalam hatiku mengatakan tidak mungkin. Orang gila tak akan begini jawabnya.

'Betulkah engkau mengidap penyakit gila?' tanyaku ingin tahu. 'Begitulah seperti kata tuan pemilikku,' dia menjawab penuh ragu dan tidak jelas.

'Kalau betul pun, pada saat apakah penyakit itu datang?' tanyaku lagi. 'Adakah setiap hari, atau setiap minggu, atau sebulan sekali? Tolonglah terangkan!'

'Tuan, bila penyakit itu menggusir di hati hamba, maka berjalanlah la ke seluruh anggota badanku, kemudian ke dalam jiwaku. Maka ketika itu akan berubahlah akalku, kemudian tanpa kurasakan lagi lisanku menyebut-nyebut nama yang paling kucinta'. Akhirnya penyakit itu membuat hatiku benar-benar terpancang kepadaNya. Sementara itu badanku tidak bergerak sedikit pun. Maka dengan sebab itulah, orang bodoh yang melihatku dalam keadaan demikian akan menuduhku 'orang gila', sedang aku sendiri tidak memahami rnengapa orang boleh mengatakan begitu, kerana mungkin dia tidak pernah mengalami apa yang pernah aku alami itu.'

Mendengar apa yang dikatakan oleh hamba itu, teringat di dalam hatiku, bahawa dia termasuk di antara kekasih Allah. Orang 'bodoh' seperti yang diungkapkan hamba itu memang mementingkan kulit saja, tidak kenal isi. Saya Ialu mendekati pemiliknya dan bertanya: 'Berapakah harganya?'

'Dua ratus dirham,' jawabnya mahu tak mahu. 'Nah' ini dua ratus dirharn harganya,' sambil menghulurkan wang itu, 'dan ini dua puluh dirham lagi, aku tambah untukmu,' kataku lagi.

Saya pun mengajak hamba itu pulang ke rumah. Tiba di rumah, saya menyuruhnya masuk, tetapi rnulanya ia enggan, seraya bertanya:

'Tuan tidak rnempunyai keluarga?!' dia bertanya kepadaku. 'Ada,' 'jawabku pendek.

'Maaf,' katanya, 'tidak boleh seseorang itu bertemu dengan selain keluarganya sendiri.'

'Tidak mengapa, aku benarkan kau masuk ke dalam, kataku lagi.

'Semoga Allah memelihara hamba dari segala dosa,' ujarnya.

'Tidak mengapalah, biar hamba duduk di luar saja. Sekiranya tuan memerlukan sesuatu, hamba bersedia untuk rnengerjakannya tanpa memasuki rumah.'

Bagaimana hamba ini? Aku ingat di dalam hati. Kelihatannya dia terlalu warak dan menjaga selok-belok agamanya dengan baik. 'Baiklah, kalau begitu! jawabku kepadanya.

Saya terus memasuki rumah untuk mengambil makanan dan minuman untuk memberikannya kepada hamba itu, tetapi ia menolaknya dengan alasan ia sedang berpuasa. Pada waktu malam, hamba itu berada sendirian di kamarnya di luar rumah. Saya lihat senyap sahaja tiada berbunyi. Maka pada tengah malam saya keluar untuk mengintipnya, dan saya dapati ia sedang bersholat dengan khusyuknya. Dia tidak sedar saya sedang mengintipnya. Selesai dari sholat ia terus sujud menangis serta berdoa.

'Ya Allah! Ya Tuhan hamba! Semua raja telah menutupi pintu rumahnya, namun pintu Tuan sajalah yang tetap terbuka luas bagi siapa yang ingin memintamu! 'Ya Tuhan! Bintang-bintang di langit semuanya berkelip-kelipan, mata-mata insan pula sedang tertutup kerana nyenyak dalam tidur, namun Dikaulah Zat yang sentiasa sedar selamanya, tidak pernah mengantuk atau tidur.

'Ya Allah! Kalau ada seorang sedang berkumpul dengan kekasihnya, maka Dikaulah kekasih bagi orang yang benar-benar mengenal cinta.

'Ya Allah! Kalau Tuan mengusir hamba, ke manakah hamba akan pergi.

'Ya Allah! jika Tuan menjauhkan hamba dari pintuMu, siapakah hamba akan mengetuk lagi?

'Ya Allah! jika Tuan akan menyiksa hamba, memang sepantasnyalah, sebab hamba tergolong orang-orang yang berdosa. Namun, Jika Tuan memberi maaf, memanglah Tuan adalah Maha Pemaaf dan Belas-kasih kepada semua hambaMu, kerana Dikaulah Maha Dermawan!'

Sesudah itu, anak itu bangun dari sujudnya seraya menangis, lalu mengangkat kepalanya lagi dan berdoa:

'Ya llahi! KepadaMulah siapa yang dekat denganmu beramal. Dengan kurnia Tuan, selamatkanlah hamba-hambamu yang salih dari kebinasaan. Dengan rahmat Tuan, sedarkanlah hamba-hambamu yang tersesat supaya kembali ke jalan yang lurus. Wahal Zat yang Baik! Berilah hamba kemaafan, berilah hamba maghfirah dan keampunan, sesungguhnya Tuan adalah Zat Pemberi maaf terhadap segala kesalahan hambanya!' Mendengar doa hamba itu, tidak terbayangkan lagi keharuan di hatiku, lalu saya meninggalkan tempat itu, supaya tidak mengganggu kekusyukan hamba itu. Pagi-pagi saya datang untuk menemuinya dan bertanya sapa kepadanya. Saya memberi salam kepadanya seraya bertanya:

Anakku! Bagaimana tidurmu semalam, tenangkah?' saya pura-pura tanya tidak tahu.

'Bolehkah tidur mata yang benar-benar takutkan api neraka?' tanya dia kembali kepadaku.

'Lagi,' kataku hendak mendengar seterusnya.

'Bolehkah tidur mata yang selalu mengingat perhitungan amal di Mahsyar nanti, serta membayangkan saat dan ketika dihadapkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa?' hamba itu kemudian menangis terisak-isak.

'Anakku! Aku merdekakan dirimu semata-mata kerana Allah,' kataku kepadanya.

Dia tidak menjawab, tetapi justeru dia semakin menangis. Tidak lama kemudian ia berkata pula: 'Tuan!' katanya kepadaku. 'Hamba dulu mendapat dua pahala, iaitu pahala beribadah dan pahala melayani tuan. Kini satu daripadanya sudah dibebaskan, tinggal satu lagi, iaitu beribadat kepada Tuhan.' 'Ya, saya faham maksudmu itu, sebab itu saya merdekakanmu,' kataku kepadanya lagi.

'Terima kasih, dan semoga Allah menyelamatkan tuan dari api neraka!' doanya untukku pula. Saya pun memberinya wang untuk keperluannya, dan membenarkan dia pergi, kerana dia sudah menjadi orang merdeka sekarang, Dia lalu mengucapkan setinggi terima kasih lagi kepadaku, tetapi wang yang kuberikannya itu ditolaknya sambil berkata:

'Tuhan yang memberiku rezeki sewaktu hamba di perut ibu, Dialah nanti yang akan menanggung rezeki hamba saat hamba berada di atas buminya ini!' Hamba itu kemudian pergi meninggalkanku, dan sesudah itu saya tidak pernah lagi bertemu dengannya. 'Ya Allah! Berilah hambamu ini taufiq dan hidayah, sebagaimana Dikau telah menganugerahkannya kepada para kekasih dan orang pilihanmu, Amin.

kredit: Syeikh Abdurrahman AI-Muhazzab


Salam Ukhuwah..~

Rabu, 1 Januari 2014

Berkat Rezeki Kerana Sedekah



Kekayaan tidak membawa erti tanpa ada keberkatan. Dengan adanya keberkatan, harta/rezeki yang sedikit akan dirasakan seolah-olah banyak dan mencukupi. Sebaliknya tanpa keberkatan akan dirasakan sempit dan susah meskipun banyak harta.

Dalam kisah Nabi-Nabi, ada diceritakan Nabi Ayub a.s. ketika sedang mandi tiba-tiba Allah datangkan seekor belalang emas dan hinggap di lengannya. Baginda menepis-nepis dengan bajunya. Lantas Allah berfirman 'Bukankah Aku lakukan begitu supaya kamu menjadi lebih kaya?' Nabi Ayub menjawab 'Ya benar, demi keagunganMu apalah makna kekayaan tanpa keberkatanMu'. Kisah ini menegaskan betapa pentingnya keberkatan dalam rezeki yang dikurniakan oleh Allah.

Cara untuk mendapatkan keberkatan daripada Allah.

1. Bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah.

2. Belanjakan harta pada jalan yang diredhai oleh Allah.

3. Berusaha untuk mendapatkan rezeki yang halal

4. Keluarkan sedekah wajib (zakat) jika sampai nisab dan berikan sedekah sunat kepada orang miskin dan anak yatim.

5. Bersedekah kepada anak yatim/miskin kalau boleh setiap hari. (cari anak-anak yatim untuk diberikan). Insya Allah akan diganti oleh Allah tanpa kita sedari.

6. Ikhlaskan pemberian/sedekah hanya kepada Allah bukan mengharapkan pujian dan sebagainya. (Pemberian tangan kanan tanpa diketahui tangan kiri). Sedekah mulakan dengan keluarga sendiri dahulu selepas itu barulah kepada jiran dan orang-orang yang lebih jauh. Jangan anggap pemberian itu hak kita sebenarnya dalam harta kita ada hak mereka.

7. Hulurkan pemberian sunat secara rahsia - tetapi pemberian wajib (zakat) perlu diberi secara terangan sebagai menegakkan syiar Islam.

8. Konsep sedekah : berikan sesuatu yang kita sayangi. Ini jelas dalam ayat Quran Ali Imran ayat 92

9. Cari harta dunia untuk dijadikan bekalan akhirat. (Dunia untuk akhirat - bukan dunia untuk dunia)

10. Amalan yang diberkati ialah hasil peluh sendiri dan juga melalui jualbeli (perniagaan). Menurut Nabi 9/10 (90%) daripada sumber rezeki ialah berpunca daripada perniagaan. Makan gaji mungkin 1/10 sahaja (10%). Nabi Muhammad s.a.w. sendiri sebelum diutus menjadi Rasul adalah seorang ahli perniagaan yang jujur, cekap dan amanah. Peniaga yang amanah akan dibangkitkan bersama para Nabi dan Rasul di akhirat kelak. Perniagaan merupakan amalan fardu kifayah. Barang makanan orang Islam sepatutnya dikeluarkan sendiri oleh orang Islam. Kalau tidak ada menjalankan aktiviti ini, seluruh umat Islam berdosa.

11. Hulurkan bantuan kepada janda yang ketiadaan suami.

Dalam satu hadith, Nabi s.a.w. menerangkan setiap awal pagi, semasa terbit matahari ada dua malaikat menyeru kepada manusia di bumi. Yang satu menyeru 'Ya Tuhanku, kurniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kerana Allah. Yang satu lagi menyeru 'Musnahkanlah orang yang menahan hartanya (lokek)'

Orang yang bakhil tidak manfaatkan hartanya untuk dunia dan akhiratnya. Menginfaqkan (Belanjakan) harta adalah berkat, sebaliknya menahannya adalah celaka. Dalam hadith lain, Nabi s.a.w. bersabda takutilah api neraka walaupun dengan sebelah biji tamar. Dan sabdanya lagi Sedekah itu penghapus dosa sebagaimana air memadam api.

Sedekah walaupun kecil tetapi amat berharga di sisi Allah. Dan digalakkan memberi sedekah pada awal pagi.

Sekiranya dapat diamalkan perkara-perkara di atas, insya Allah rezeki yang dikurniakan oleh Allah akan kekal walaupun telah digunakan. Allah akan membalas atau menggantikan apa yang telah dibelanjakan. Amalkan ilmu yang ada, nanti Allah akan menambahkan ilmu lagi. Begitu juga harta - belanjakan harta yang ada, Allah akan tambahkan lagi dari sumber yang kita tidak ketahui.

kredit: rakangroup


Salam Ukhuwah..~